Senin, 25 September 2017

JIKA BERSAPA RAMADHAN

JIKA BERSAPA RAMADHAN
Oleh Nurul Fadhilla

Ya Allah..
Berkah-Mu, menyejukkan jiwa
Semua makhluk merindukan
Harapan selalu bersapa Ramadhan
Izinkan bersandar
Melangkah membawa ayat-ayat-Mu

Ya Allah..
Terimalah ibadah ini
Hamba-Mu memohon ampunan
Lembaran sunnah ku genggam
Kuatkan jiwa taat Kepada-Mu
Ridhoi muhasabahku

Ya Allah..
Selembar kertas putih melayang
Suci jiwa ini datang
Izinkan jiwa kembali suci
Pinjamkan sayap malaikat

Kan terbang membawa lembaran surga

Kediri, 25 September 2017

Kamis, 07 September 2017

POHON BERINGIN LAMBANG NEGARAKU

POHON BERINGIN LAMBANG NEGARAKU


Berdiri ditengah luasnya alam
Tubuh besarmu menguatkan jiwaku
Menjadikan semangat terus berjuang
Dedaunan nampak bergoyang di temani sepoi angin
Terlihat kokoh di pandang
Layaknya Negaraku yang gagah berwibawa
Ranting luasmu menjadi perteduhan yang menyejukkan
Persis seperti Negaraku yang penuh perdamaian
Engkau memiliki akar kuat dan menjalar di mana-mana
Bagaikan keanekaragaman suku dan bangsa Indonesia yang harus tetap bersatu
Engkaulah persatuan Indonesia.

Profil Penulis

Nurul Fadhilla, lahir di Kediri, 13 Juni 1996, seorang mahasiswi semester IV di STAIN Kediri mengambil prodi pendidikan agama Islam, yang memiliki hobbi menulis sebagai media dakwah. Alamat rumahnya di Dsn. Sumberagung Ds. Krecek Kec. Badas Kab. Kediri. Penulis dapat dijumpai di via sosial media facebook https://www.facebook.com/nurul.fadhilla.948 dan juga bisa lewat e-mail nurulfadhilla151@gmail.com

Senin, 14 Agustus 2017

PUISI ; SUCIKAN JIWA


Ya Allah...
Berkah-Mu, menyejukkan jiwa
Semua makhluk merindukan
Harapan selalu bersapa Ramadhan
Izinkan bersandar
Melangkah membawa ayat-ayat-Mu

Ya Allah..
Terimalah ibadah ini
Hamba-Mu memohon ampunan
Lembaran sunnah ku genggam
Kuatkan jiwa taat Kepada-Mu
Ridhoi muhasabah ku

Ya Allah..
Selembar kertas putih melayang
Suci jiwa ini datang
Izinkan jiwa kembali suci
Pinjamkan sayap malaikat
Kan terbang membawa lembaran surga

Kediri, 10  Agustus 2017
Tertanda;
Nurul Fadhilla


Minggu, 26 Maret 2017

Pemikiran modern dalam Islam: Gerakan pembaharuan di turki






Gerakan Pembaharuan di Turki pada Masa Pemerintahan Sultan Mahmud II, Tanzimat, 
Usmani Muda, Turki Muda
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Pemikiran Modern dalam Islam
Dosen Pengampu: 
Erwin Indrioko, M.Pd.I


Disusun oleh:
Nurul Fadhilla             (932121415)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KEDIRI
2017



BAB II

PEMBAHASAN
A.    Gerakan Modernisme di Turki
            Modernisme Islam di Turki dilakukan oleh kalangan penguasa dan birokrat dinasti Turki Usmani. Sedangkan masyarakat tidak memiliki akses ke pusat kekuasaan. Pembaharuan Islam yang dilakukan oleh kalangan elite politik tidak berkembang dikalangan ulama dan ilmuan disebabkan karena:
1.      Karena pada sejarahnya wilayah dan penguasa yang mendominasi seluruh kekuatan dan kekuasaan politik negara. Orientasi peradaban hanya terfokus pada militer, politik dan budaya fisik. Dalam aspek fisik ini berakibat kebijakan politik yang ekspansif dengan tujuan menguasai wilayah dan disibbukkan dengan peperangan. Mereka mengandalkan aspek fisik dan materi.
2.      Karena Turki bukan merupakan pusat keilmuan, hampir tidak ada ilmuan Islampun yang lahir dari keturunan bangsa Turki.
            Pembaharuan di Turki di dominasi kalangan elite politik yang banyak bersentuhan dengan Barat yang akhirnya Turki mengalami kekalahan terus-menerus dan berakibat terjadinya instabilitas didalam negeri, maka orientasi pembaharuannya diarahkan pada pembaharuan yang bersifat fisik dan material, seperti militer, politik dan administrasi pemerintahan, hukum, ekonomi, keuangan dan pendidikan.[1]
B.     Gerakan pembaharuan di Turki pada masa pemerintahan
1.      Sultan Mahmud II
Sultan Mahmud II (lahir 1785- wafat 1839) ialah khalifah Turki Utsmani ke-33, diangkat menjadi sultan pada tahun 1807, menggantikan kakaknya, Mustafa IV, ayahnya adalah Sultan Salim (khalifah ke-31). Sultan Mahmud II adalah Khalifah yang mendorong Dunia Islam meniru Barat. Sultan Mahmud II mempunyai pendidikan tradisional antara lain, pengetahuan agama, pengetahuan pemerintahan, sejarah dan sastra Arab, Turki dan Persia.
Sultan Mahmud II membentuk korps tentara baru pada tahun 1826 yang diasuh oleh pelatih-pelatih yang dikirim oleh Muhammad Ali Pasya dari Mesir. Ia menjauhi pemakaian pelatih-pelatih Eropa atau Kristen yang sering ikut campur atas tidak setuju dengan pembaharuan. Perwira tinggi Yeniseri setuju atas pembentukan korp baru, tetapi perwira bawahan menolak dan memberontak, namun dapat dihancurkan oleh Sultan Mahmud, Sultan memberi perintah untuk mengepung Yeniseri yang sedang berontak dan memukuli mereka dengan meriam.
Pembaharuan yang dilakukan Sultan Mahmud II:
a)      Bidang pemerintahan
           Sultan Mahmud II di kenal sebagai Sultan yang tidak mau terikat dengan tradisi dan tidak segan-segan melanggar adat kebiasaan lama. Sultan-sultan sebelumnya menganggap diri mereka tinggi dan tidak pantas bergaul dengan rakyat. Oleh karena itu, Sultan sebelumnya tidak pernah terjun langsung ke masyarakat dan menyerahkan soal mengurus rakyat pada bawahannya. Timbullah anggapan mereka bukan manusia biasa dan pembesar-pembesar Negara pun tidak berani duduk ketika menghadap Sultan.
           Sultan Mahmud II melanggar tradisi aristokrasi. Sultan Mahmud II mengambil sikap demokratis dan selalu muncul dimuka umum untuk berbicara atau menggunting pita pada upacara-upacara resmi. Menteri dan Pembesar-pembesar Negara lainnya ia biasakan duduk bersama jika datang menghadap. Begitu juga pakaian Sultan, ia menggunakan pakaian sederhana, dan menganjurkan agar rakyat juga meninggalkan pakaian tradisional dan menggunakan pakaian Barat. Perubahan pakaian ini menghilangkan statussosial yang nyata kelihatan pada pakaian tradisional. [2]
b)      Bidang pendidikan
·         Sultan Mahmud II membuat terobosan baru mendirikan pendidikan modern dan memasukkan ilmu pengetahuan umumke madrasah. Sekolah modern yang didirikannya antara lain: pendidikan hukum dan peradilan, pendidikan sastra, pendidikan teknik dan pendidikan kedokteran.[3]

2.      Gerakan Tanzimat
                  Gerakan Tanzimat muncul di kalangan birokrat kerajaan Usmani yang bertujuan untuk membuat peraturan dan undang-undang, hukum dan administrasi, serta kehidupan sosial dengan menjadikan standar kehidupan sosial bangsa Eropa sebagai ukurannya. Gerakan ini muncul disebabkan keinginan membatasi kekuasaan Sultan yang absolut. Pemuka gerakan ini adalah: Mustafa Rayid Pasha, Mehmed Ali Pasha, Mehmed Fuad Pasha, dan Mehmed Sadik Rifat Pasha.[4]
a)      Mustafa Rasyid Pasha
            Ia lahir di Istanbul pada tahun 1800. Pada mulanya ia mempunyai pendidikan di madrasah kemudian menjadi pegawai pemerintah. Pada tahun 1834 ia dikirim sebagai Duta Besar ke Paris, dan ia mendapatkan ide-ide baru yang dilahirkan Revolusi Perancis. Kemajuan di Eropa menurut pendapatnya, (1) dihasilkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) toleransi beragama dan kemampuan orang Eropa melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama, (3) peradaban Eropa baru dan peradapan lamanya terdapat suatu hubungan yang tidak terputus, (4) pendidikan universitas bagi pria dan wanita, sehingga umumnya orang di Eropa pandai membaca dan menulis.[5]
b)      Mehmed Sadik Rifat Pasha
            Setelah selesai dari pendidikan madrasah ia melanjutkan di sekolah sastra. Di tahun 1834 ia diangkat menjadi pembantu menteri luar negeri. Tiga tahun kemudian ia dikirim sebagai Duta Besar ke Wina. Dalam pandangan Sadik Rifat Pasha, kemunduran negara ada pada kemunduran rakyatnaya. Kemunduran itu dapat dihilangkan dengan menghancurkan pemerintahan yang absolut. Pemerintahan absolut akan menjadikan rakyat tidak aman dan tentram, membuat rakyat kurang giat bekerja. Ini berakibat pada produktifitas menurun, kejujuran hilang, korupsi merajalela, timbul sikap individualistik dan akhirnya negara jatuh. [6]   
Diantara beberapa peraturan perundang-undangan yang dihasilkan pada masa Tanzimat antara lain:
a)      Hatt-i Syarif Gulhane 1839: berisi persamaan hak dan status seluruh penduduk dalam kekuasaan Usmani dengan tidak membedakan muslim dan non muslim dalam keadilan, ketentraman, kehormatan, hak milik dan perpajakan.
b)      Hatt-i Humayun 1856: berisi persamaan hak dan status seluruh penduduk dalam wilayah kekuasaan Turki Usmani dalam segala aspeknya antara orang Turki dan orang Eropa.
Pembaharuan yang dilakukan gerakan Tanzimat adalah:
a)      Administrasi negara
·         Dewan yang mengurus kenegaraan dan kerakyatan ditingkatkan menjadi kementrian.
·         Kementrian Dalam Negeri dipisah dari kekuasaan Perdana Menteri
·         Membentuk Dewan Akuntan dibawah kementrian keuangan dengan tugas mengurusi anggaran belanja, pajak dan pengawasan keuangan negara
·         Dibentuk kementrian perdagangan, pertanian dan pekerjaan umum
·         Merubah propinsi dari sistem disentralisasi ke sentralisasi
b)      Hukum
·         Dewan hukum yang dibentuk oleh Sultan Mahmud II, diperbanyak anggotanya dan diberi kekuasaan membuat undang-undang.
·         Mendirikan 3 bentuk pengadilan di tiap-tiap propinsi
·         Dibentuk lembaga banding dewan kehakiman dan pengadilan tinggi
c)      Pendidikan
·         Mendirikan sekolah guru sebagai solusi kekurangan pengajar sekolah menengah, pendidikan dasar, wajib belajar sampai usia 12 tahun.
d)     Ekonomi dan keuangan
·         Diperlakukan pajak produksi dan penjualan usaha produktif sebagai pengganti pajak atas dasar syariat, pajak hewan ternak, pendirian bank.[7]
3.      Gerakan Usmani Muda
      Usmani Muda adalah gerakan yang dipelopori oleh birokrat yang kecewa terhadap pembaharuan yang dilakukan Tanzimat. Tujuan pendiriannya hampir sama dengan tanzimat yaitu untuk merubah pemerintahan Usmani menjadi konstitusional dengan membatasi kekuasaan Sultan. Perbedaannya terletak pada memelihara karakter Islam dan keislaman kerajaan Usmani, dimana pada masa Tanzimat dianggap sudah jauh mengambil budaya Eropa. Gerakan yang timbul karena reaksi terhadap Tanzimat ini dipelopori oleh Ibrahim Sinasi, Namik Kemal, Ziya Pash dan Midhat Pasha.[8]
a)      Ziya Pasha
            Ia adalah anak seorang pegawai kantor cukai di Istanbul. Setelah menyelesaikan sekolah Suleymaniye ia diangkat menjadi pegawai pemerintah. Di tahun 1854 ia diangkat menjadi Sekertaris Sultan.  Pada tahun 1867 ia perki ke Eropa selama 5 tahun.[9] Dalam pandangannya bahwa suatu negara akan maju bila memberlakukan konstitusi dan meniadakan pemerintahan absolut seperti yang dilakukan oleh masyarakat Eropa. Konstitusi yang dibangun harus berdasarkan pada syarri’at Islam.[10]
b)      Namik Kemal
            Berpandangan bahwa kemunduran Usmani disebabkan ketidak beresan ekonomi dan politik yang absolut kepada pemerintahan konstitusional dengan menjunjung hak-hak rakyat dan terciptanya demokrasi konstitusional. Pemerintahan konstitusinal merupakan prinsip Islam yang telah disepakati bersama sejak dahulu dengan sumber referensi sistem pemerintahan masa Khulafaur Rasyidin. Namik membagi kekuasaan negara dalam tiga majlis: (1) majlis negara yang merancang undang-undang, (2) majlis Nasional yang membuat undang-undang atas dasar rancangan yang disusun oleh majlis negara, (3) senat yang menjadi perantara antara kekuasaan legislatif dan eksekutif.
            Ide konstitusi Usmani Muda tidak bisa berjalan sesuai dengan harapan, bahkan akhirnya menjadi boomerang bagi mereka, karena sejumlah pasal masih memberikan kekuasaan besar pada sultan seperti kedaulatan di tangan sultan yang bersifat suci. Sultan juga masih mempunyai hak yang besar lain seperti mengangkat dan memberhentikan menteri, mengadakan perjanjian dan perjanjian damai internasional bersifat internasional dengan negara lain, mengumumkan perang, membubarkan perlemen, setiap rancangan undang-undang sebelum dibawa ke perlemen harus dengan persetujuan sultan. Akibatnya gerakan ini dibubarkan oleh sultan Abdul Hamid II.[11]
4.      Turki Muda
                  Gerakan Turki Muda bangkit melanjutkan pembaharuan yang sudah dilakukan Tanzimat dan Usmani Muda, yang gerakan dahulu belum berhasil mengurangi keabsolutan pemerintah kesultanan Usmani. Kelompok militer juga ikut gabung dengan bentuk komite rahasia, seluruh komponen bersatu melakukan penentangan terhadap absolutisme sultan Abdul Hamid II.  Gerakan ini memaksa sultan Abdul Hamid II turun dari tahta. Diantara tokoh pemikir dari gerakan Turki Muda ini adalah: Ahmed Riza, Mehmed Murad dan Pangeran Sabahuddin.
a)      Ahmed Riza
            Ia melanjutkan pendidikan di Perancis mengambil bidang pertanian, karena cita-citanya adalah memperbaiki nasib petani dengan meningkatkan hasil pertanian. Pendapatnya bahwa untuk menyelamatkan dengan pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan. Pemerintahan konstitusional akan menjamin terwujudnya suatu administrasi yang diinginkan dengan menyelenggaraan pendidikan secara baik. Pemerintahan konstitusional tidak bertentangan dengan ajaran agama karena syari’at menganjurkan agar melakukan musyawarah. Oemikiran ini diajukan dengan diperkuat contoh yang telah dipraktekkan Nabi dalam membangun negara Madinah, dan apa yang dilakukan dalam pemerintahan kekhalifahan Khulafaur Rasyidin.[12]
b)      Mahmed Murad
            Murad seorang penulis dan guru besar sejarah. Ia menyebarkan idenya melalui majalah bernama Mizan. Dalam pandangan Murad, persoalan pembaharuan ada 2: (1) kekuasaan absolut sultan harus dibatasi berdasarkan musyawarah sesuai dengan petunjuk syari’at. Murad berkeyakinan bahwa masalah ini timbul karena tindakan Usmani yang banyak bersandar pada dukungan Eropa dalam upaya mengefektifkan konstitusi yang disusunnya. (2) rasa saling percaya diantara wilayah-wilayah kekuasaan Usmani harus di pulihkan. Hal ini diakibatkan campur tangan kekuatan Eropa di wilayah kekuatan Usmani. Murad menyerang politik Eropa dalam rangka membela Islam. Untuk membatasi kekuasaan absolut sultan dan menghadapi kesewanangannya, maka konstitusi harus dihudupkan kembali.[13]
c)      Pangeran Sabahuddin
Pangeran Sabahuddin adalah cucu dari Sultan Mahmud II, ia tinggal di Perancis bersama ayah dan ibunya. Di Paris ia terpengaruh aliran pemikiran Edmond Demolies. Pengaruh tersebut terlihat jelas dalam rangka pemecahan problem yang dihadapi kerajaan Usmani. Pangeran melihat bahwa keterbelakangan Turki tidak disebabkan oleh sultan, tapi oleh perilaku masyarakat. Untuk mencapai kemajuan, masyarakatlah yang harus dirubah, dan bukan dengan menuntut penguasa.[14]
            Gerakan Turki Muda bersama Komite Tanah Air dan Kemerdekaan yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk. Menentang kebijakan sistem kekuasaan sultan. Di Salonika, Edire dan Macedonia juga muncul gerakan penentang, dan yang terkenal adalah Komite Persatuan dan Kemajuan. Komite menuntut sultan untuk memberlakukan kembali konstitusi 1876 dengan ancaman akan digulingkan. Setelah sultan menerima, diadakan pemilihan umum dan berhasil membentuk parlemen dengan diketuai oleh tokoh Turki Muda, Ahmad Riza.
            Golongan Bektasyi, melancarkan serangan pada kebijakan Turki Muda yang banyak dipengaruhi ide Barat, dan membentuk persatuan Islam dipimpin Vahdeti Murad Bey. Mereka membela syari’at yang saat itu dilupakan oleh Turki Muda. Di wilayah Arab, mulai tumbuh subur nasionalisme. Melihat kondisi itu, Sultan Abdul Hamid II berusaha memperoleh kembali kekuasaannya, tapi dia dipaksa turun dan diganti oleh saudaranya Sultan Mahmud V pada tahun 1909.
            Setelah diadakan pemilihan umum, komite persatuan dan kemajuan memperoleh kemenangan, namun setahun setelah itu, roda pemerintahan beralih ke kelompok militer, dengan kekuasaannya berada pada tiga serangkai Enver Pasha, Talat Pasha, Jamal Pasha. Pemerintah ini bersifat militeristik, refresif dan tidak menerima kritik sehingga partai oposisi dibubarkan dan pimpinannya dibuang keluar negeri. Keterlibatan mereka dalam perang dunia I yang bersekutu dengan Jerman, mengakibatkan kekalahannya. Akhirnya kekuasaan militer Turki Muda hancur dan Persatuan dan Kemajuan membubarkan diri dimana pimpinannya lari keluar negeri.[15]



DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Taufiqurrahman. Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Islam Abad Modern dan   Kontemporer. Surabaya: Dian Ilmu, 2007.


[1] Taufiqurrahman, Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Islam Abad Modern dan Kontemporer (Surabaya: Dian Ilmu, 2007), 54-55.
[2] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), 90-96.
[3] Taufiqurrahman, Pemikiran., 57.
[4] Ibid., 57.
[5] Nasution, Pembaharuan., 97.
[6] Ibid., 98.
[7] Taufiqurrahman, Pemikiran., 57.
[8] Ibid., 59.
[9] Nasution, Pembaharuan., 105.
[10] Taufiqurrahman, Pemikiran., 59.
[11] Ibid., 60.
[12] Ibid., 62.
[13] Ibid., 63.
[14] Ibid., 64.
[15] Ibid., 64-66.


الحمد لله

Sertifikat Essay