VARIASI INDIVIDUAL
PESERTA DIDIK
Disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah
“Perkembangan Peserta Didik”
Dosen Pengampu:
Choirul Annisa, M. Pd
Kelompok
3:
Nurul
Fadhilla
932121415
Dewi Nur Jamilah
932117715
Khulasotun Nikmah
932128515
Ngarofatul Hanifah
932144915
KELAS G
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Dalam kesempatan ini, dalam makalah ini saya akan mengkaji beberapa indikator yakni pertama
tentang definisi peserta didik,
teori-teori psikologi tentang hakikat peserta didik, peran peserta didik
sebagai makhluk individual, perbedaan individu peserta didik dan implikasinya
dalam pendidikan. Semua indikator tersebut sekaligus sebagai rumusan masalah
tentang variasi individual peserta didik.
Sehingga dengan mengacu
pada teori-teori, peran dan perbedaan serta implikasinya maka dapat
diketahui variasi individual
peserta didik.
B.
Rumusan masalah
1.
Apa
pengertian peserta didik?
2.
Bagaimana
teori-teori psikologi tentang hakikat peserta didik?
3.
Apa
peran peserta didik sebagai makhluk individual?
4.
Bagaimana
perbedaan individu peserta didik?
5.
Bagaimana
karakteristik individu dan implikasinya dalam pendidikan?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
pengertian dari peserta didik.
2.
Memahami
teori-teori psikologi tentang hakikat peserta didik.
3.
Memahami
peran peserta didik sebagai makhluk individual.
4.
Mengetahui
perbedaan individu peserta didik.
5.
Mengetahui
dan memahami karakteristik individu dan implikasinya dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Peserta Didik
Peserta didik merupakan salah satu
komponen penting dalam sistem pendidikan. Peserta didik sering disebut sebagai “raw
material” (bahan mentah). Berikut pengertian peserta didik menurut berbagai
pandangan:
1.
Pandangan
pedagogik
Peserta didik dipandang sebagai manusia, manusia yang memiliki
potensi yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan agar
menjadi manusia yang cakap.
2.
Pandangan
psikologis
Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis.
3.
Pandangan
UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4
Peserta didik sebagai anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur dan jenjang dan
jenis pendidikan tertentu.
Berdasarkan beberapa definisi tentang peserta didik yang
disebutkan, maka dapat disimpulkan bahwa
peserta didik individu yang memiliki jumlah karakteristik, diantaranya:
1.
Peserta
didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas.
2.
Peserta
didik adalah individu yang sedang berkembang.
3.
Peserta
didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
4.
Peserta
didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.[1]
B.
Teori-teori Psikologi tentang Hakikat Peserta Didik
Berikut ini
akan diuraikan beberapa teori psikologi tentang hakikat manusia tersebut.
1.
Pandangan
Psikodinamika
Merupakan teori psikologi yang berupaya menjelaskan hakikat dan
perkembangan tingkah laku (kepribadian) manusia. Menurut Sigmund Freud dalam
teorinya “teori psikoanalitis” bahwa tingkah laku manusia adalah hasil dari
tenaga yang beroperasi di dalam pikiran (tanpa disadari individu). Baginya, hanya
sebagian kecil dari tingkah laku manusia yang muncul dari proses mental yang
disadari, sebaliknya yang paling besar mempengaruhi tingkah laku manusia adalah
ketiksadaran. Disini Freud meyakini bahwa tingkah laku kita itu didorong oleh
motif-motif di luar alam sadar kita dan konflik yang tidak kita sadari.
Jadi kesimpulan menurut pandangan ini, bahwa tingkah laku manusia
lebih ditentukan dan dikontrol oleh kekuatan psikologis, naluri-naluri
irasional (terutama naluri menyerang dan naluri seks) yang sudah ada pada diri
individu.
Ide-ide pokok tentang tingkah laku manusia, Freud kemudian
membedakan kepribadian manusia atas 3 unit mental atau struktur psikis, yaitu id,
ego dan superego. Meskipun ketiga struktur psikis tersebut mempunyai
fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dan dinamikanya sendiri-sendiri, tetapi
ketiganya saling berhubungan, sehingga sulit untuk memisahkan pengaruhnya satu
sama lain dalam fenomena tingkah laku manusia.
Id merupakan
aspek biologis kepribadian karena berisikan unsur biologis, termasuknya di dalamnya
dorongan-dorongan dan impuls-impuls instinktif yang lebih dasar (lapar, haus,
seks dan agresif).
Ego merupakan
aspek psikologis kepribadian karena timbul dari kebutuhan organisme untuk
berhubungan secara baik dengan dunia nyata dan menjadi perantara antara
kebutuhan instinktif organisme dengan keadaan lingkungan. Ego berkembang pada
tahun pertama dan merupakan aspek eksekutif atau “executive branch” (badan
pelaksana) kepribadian, karena fungsi utama ego adalah : (1) Menahan penyaluran
dorongan. (2) Mengatur desakan dorongan-dorongan yang sampai pada kesadaran.
(3) Mengarahkan suatu perbuatan agar mencapai tujuan-tujuan yang dapat
diterima. (4) Berpikir logis dan (5) Mempergunakan pengalaman emosi-emosi
kecewa atau kesal sebagai tanda adanya sesuatu yang salah, yang tidak benar,
sehingga kemudian dapat, dikategorikan dengan hal-hal lain untuk memutuskan apa
yang akan dilakukan sebaik-baiknya.[2]
Superego
adalah aspek sosiologis kepribadian karena merupakan wakil nilai-nilai
tradisional dan cita-cita masyarakat sebagaimana yang ditafsirkan orangtua
kepada anak-anaknya melalui berbagai perintah dan larangan. Superego
mencerminkan nilai-nilai moral dari self yang ideal, yang disebut “ego
ideal” dan berfungsi : (1) Sebagai hati nurani atau penjaga moral internal yang
mengawasi ego dan memberikan penilaian
tentang benar atau salah. (2) Merintangi impuls-impuls id, terutama impuls-impuls
seksual dan agresif. (3) Mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan
realitas dengan tujuan-tujuan moralitas. (4) Menentukan cita-cita mana yang
akan diperjuangkan dan (5) Mengajar kesempurnaan.
Superego bekerja menurut prinsip moral (moral principle), yaitu
menuntut kepatuhan yang ketat terhadap standar moral. Karena mengikuti prinsip
moral, superego cenderung untuk menentang, baik id maupun ego, dan membuat
dunia menurut gambarannya sendiri. Tetapi superego sama seperti id, bersifat
tidak rasional, dan sama seperti ego, melaksanakan kontrol atas
instink-instink. Berbeda dengan ego, superego tidak hanya menunda pemuasan
instink, tetapi tetap berusaha untuk merintanginya.[3]
2.
Pandangan
Behavioristik
Behavioristik adalah sebuah aliran dalam pemahaman tingkah laku
manusia yang dikembangkan oleh John B. Watson (1878-1958), seorang ahli
psikologi Amerika pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika. Perspektif
behavioral ini berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku
manusia.[4] Dalam
aliran ini tingkah dalam belajar akan berubah kalau ada stimulus dan respon.
Stimulus dapat berupa prilaku yang diberikan pada siswa, sedangkan respon
berupa perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa, dengan demikian teorisme
pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan.[5] Asumsi
dasar mengenai tingkah laku menurut teori adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya
ditentukan oleh aturan-aturan, bisa diramalkan, dan bisa dikendalikan.
Freud melihat bahwa tingkah laku kita dikendalikan oleh
kekuatan-kekuatan yang tidak rasional, teoritikus behavioristik melihat kita
sebagai hasil pengaruh lingkungan yang membentuk dan memanipulasi tingkah laku
kita. Menurut teoritikus behavior, manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif,
yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang berasal dari luar.
Berdasarkan pemahaman ini, maka kepribadian individu menurut teori dapat
dikembalikan kepada hubungan antara individu dan lingkungannya. Manusia datang
ke dunia itu tidak dengan membawa ciri-ciri yang pada dasarnya “baik atau
buruk”, tetapi netral. Hal-hal yang mempengaruhi perkembangan kepribadian
individu selanjutnya semata-mata bergantung pada lingkungannya.
Gagasan utama dalam aliran behavioristik ini adalah bahwa untuk
memahami tingkah laku manusia diperlukan pendekatan yang objektif, mekanistik
dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang dapat
dilakukan melalui upaya pengondisian. Menurut Watson, adalah tidak bertanggung
jawab dan tidak ilmiah mempelajari tingkah laku manusia semata-mata didasarkan
atas kejadian-kejadian subjektif, yakni kejadian-kejadian yang diperkirakan
terjadi di dalam pikiran, tetapi tidak dapat diamati dan diukur.
3.
Pandangan
Humanistik
Teori humanistik muncul pada pertengahan abad ke-20 sebagai reaksi
teori psikodinamik dan behavioristik. Para teoritikus humanistik, seperti Carl
Rogers (1902-1987) dan Abraham Maslow (1908-1970) menyakini bahwa tingkah laku
manusia tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari konflik-konflik yang tidak
disadari maupun sebagai hasil pengondisian (conditioning) yang sederhana. Teori
ini menyiratkan penolakan terhadap pendapat bahwa tingkah laku manusia
semata-mata ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Sebaliknya teori ini
melihat manusia sebagai aktor dalam drama kehidupan, bukan reaktor terhadap instink
atau tekanan lingkungan. Teori ini berfokus pada pentingnya pengalaman disadari
yang bersifat subjektif dan self direction.
Para teoritikus humanistik mempertahankan bahwa manusia memiliki
kecenderungan bahwa untuk melakukan self-actualization untuk berjuang menjadi apa
yang mereka mampu.[6]
Menurut Rogers, salah seorang tokoh aliran humanistik, prasyarat
yang terpenting bagi aktualisasi diri adalah konsep diri yang luas dan fleksibel,
sesuatu yang memungkinkan kita untuk menyerap secara luas seluruh pengalaman
dan mengekspresikan diri kita secara penuh. Konsep diri sebagian besar
merupakan hasil pengalaman kita pada waktu kecil, terutama pengalaman bersama
orang tua kita sendiri. Semua anak secara alamiah mendambakan kehangatan dan
penerimaan.
Rogers menyakini bahwa orang tua mempunyai peran yang besar dalam
membantu anak-anak mereka mengembangkan self esteem dan menempatkan
mereka pada jalur self actualization dengan menunjukan pada mereka unconditional
positive regard memuji mereka berdasarkan nilai dalam diri mereka tanpa
memandang perilaku mereka pada saat itu. Dengan konsep diri ini yang demikian,
anak akan berusaha menjadi apa yang diinginkan oleh orang lain, dan tidak
berusaha menjadi apa yang diinginkan oleh orang lain, dan tidak berusaha
menjadi apa yang sebenarnya ia inginkan.
Lebih jauh Rogers mengatakan bahwa orang saling menyakiti satu sama
lain atau menjadi antisosial dalam tingkah laku mereka sebenarnya adalah karena
mereka frustasi dalam usaha untuk mencapai potensi unik mereka. Namun ketika
orangtua dan orang lain memperlakukan anak dengan cinta dan toleransi untuk
perbedaan mereka, anak-anak juga akan tumbuh menjadi penuh cinta, sekalipun
beberapa dari nilai dan kesukaan mereka berbeda dengan pilihan orangtua mereka.
Jadi, dalam teori humanistik, manusia digambarkan secara optimistik
dan dengan harapan.di dalam diri manusia terdapat potensi-potensi untuk menjadi
sehat dan tumbuh secara kreatif. Manusia digambarkan sebagi individu yang
aktif, bertanggungjawab, mempunyai potensi kreatif, bebas (tidak terikat oleh
belenggu masa lalu), berorientasi ke depan, dan selalu berusaha untul self
fulfillment (mengisi diri sepenuhnya untuk beraktualisasi).
4.
Pandangan Psikologi Transpersonal
Psikologi ini sebenarnya merupakan
kelanjutan atau lebih tepatnya pengembangan dari psikologi humanistik.
The
states of conciousness atau lebih populernya disebut the althere stated of
conciousness adalah pengalaman seseorang melewati batas-batas kesadaran biasa,
seperti pengalaman-pengalaman alih dimensi, memasuki alam-alam kebatinan,
kesatuan mistik, komunikasi batiniah, pengalaman meditasi, dan sebagainya. Demikian
juga mengenai potensi-potensi luhur manusia menghasilkan telaah-telaah luhur
seperti altereed states of conciousness, extra sensory perception, transendensi
diri, kerohanian, potensi luhur dari paripurna, dimensi di atas alam kesadaran,
mistik, paranormal, praktek-praktek keagamaan di kawasan Timur dan berbagai
belahan dunia lainnya dan sebagainya.
Dari
hasil penelitian ini, Maslow berkesimpulan bahwa pengalaman keagamaan adalah
peak experience, plateau dan farthes dan reaches of humannature. Oleh sebab itu
kata Maslow, psikologi belum sempurna difokuskan kembali dalam pandangan
spiritual dan transpersonal. Psikologi transpersonal menunjukan bahwa diluar
alam kesadaran biasa terdapat ragam dimensi lain yang luar biasa potensialnya
serta mengajarkan praktik-praktik untuk mengantarkan manusia pada kesadaran
spiritual, di atas ego, ide, dan superego-nya Freud.[7]
C.
Peserta Didik sebagai Makhluk Individual
Manusia sebagai makhluk individual adalah
bahwa manusia merupakan keseluruhan atau totalitas yang tidak dapat dibagi. Maksudnya
manusia tidak dapat dipisahkan dari jiwa dan raganya, rohani dan jasmaniahnya. Setiap
manusia memiliki beberapa potensi manusiawi, seperti bakat, minat, kebutuhan
sosial, emosional, personal. Dan kemampuan jasmaniah. Potensi-potensi itu perlu
dikembangkan melalui proses pendidikan dan pengajaran, sehingga dapat tumbuh
dan berkembang secara utuh menjadi manusia dewasa atau matang.
Peserta didik memiliki ciri khas yang
sesuai dengan corak kepribadian dan kemampuan masing-masing individu itu tidak
sama, maka pribadi yang terbentuk dalam proses tersebut juga berbeda antara
individu yang satu dengan individu yang lain.[8]
D.
Perbedaan Individual Peserta Didik
1.
Perbedaan Fisik
Perbedaan individual dalam fisik tidak
hanya terbatas pada ciri-ciri yang diamati dengan panca indera, seperti :
tinggi badan, warna kulit, jenis kelamin, rambut, nada suara atau bau keringat,
tetapi juga ciri lain yang hanya dapat diketahui setelah diadakan pengukuran. Usia,
berat badan, kecepatan lari, golongan darah, pendengaran, penglihatan dan
semacamnya merupakan ciri-ciri yang tidak dapat diamati perbedaannya dengan
pendindraan.
2.
Perbedaan Intelegensi
Intelegensi merupakan kemampuan mental,
pikiran, atau intelektual dan merupakan bagian dari proses-proses kognitif pada
tingkatan yang lebih tinggi. Atau dapat pula dipahami sebagian kemampuan untuk
menggunakan konsep yang abstrak secara efektif dan kemampuan untuk memahami
hubungan dan mempelajari dengan cepat. Setiap peserta didik memiliki
intelegensi yang berbeda. Ada yang tinggi, sedang dan rendah yang dapat
diketahui melalui tes IQ.
Dengan adanya perbedaan individual dalam
aspek intelegensi ini, maka guru sekolah akan mendapati anak dengan kecerdasan
yang luar biasa, anak yang mampu memecahkan masalah dengan cepat, mampu mampu
berfikir abstrak dan kreatif. Sebaliknya guru juga akan mendapati anak yang
kurang cerdas, sangat lambat dan bahkan hampir tidak mampu mengatasi masalah
yang mudah sekalipun.
3.
Perbedaan Kecakapan Bahasa
Bahasa merupakan kemampuan individu yang
sangat penting dalam proses belajar disekolah. Kemampuan berbahasa adalah
kemampuan seseorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan
kata, dan kalimat yang bermakna, logis dan sistematis.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan
bahasa anak adalah nature dan nurture (pembawaan dan lungkungan). Jadi antara
individu satu dan yang lain, perkembangan bahasanya bervariasi.
4.
Perbedaan Psikologis
Psikologi setiap anak itu pasti berbeda,
ada anak yang mudah tersenyum, gampang marah, berjiwa sosial, egois, cengeng,
malas, rajin, murung dan lainnya.
Persoalan psikologi itu sangat sulit
dipahami secara cepat, sebab menyangkut apa yang ada di dalam jiwa dan perasaan
peserta didik. Oleh karena itu, kita calon seorang guru dituntut untuk memahami
kejadian psikologis peserta didik, dengan cara pendekatan kepada peserta didik
secara pribadi. Dengan mendekati dan mengenalnya secara mendalam.[9]
5.
Perbedaan Latar Belakang
Latar
belakang keluarga, baik dilihat dari segi sosio-ekonomi maupun sosio-kultural
adalah berbeda-beda. Perbedaan latar belakang dan pengalaman dapat memperlancar
atau menghambat kemampuan atau prestasi seseorang. Pengalaman anak di rumah
mempengaruhi kemauan dan keterampilan untuk berprestasi dalam situasi belajar
yang disajikan.
6.
Perbedaan Bakat
Bakat
merupakan pembawaan seseorang sejak lahir, bakat akan berkembang secara baik
jika mendapat dorongan, sebaliknya tidak akan berkembang jika tidak mendapatkan
dorongan. Dalam hal ini peran pendidikan sangat penting untuk mengembangkat bakat.[10]
E.
Karakteristik Individu Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Karakteristik individu adalah kelakuan
dan kemampuan yang ada pada individu sebagai hasil dari pembawaan dan
lingkungannya. Untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu, baik dalam
hal fisik, mental maupun emosional ini biasanya digunakan istilah nature
dan nurture. Nature (alam, sifat dasar) adalah karakteristik
individu atau sifat khas seseorang yang dibawa sejak kecil atau yang diwarisi
sebagai sifat pembawaan. Nurture (pemeliharaan, pengasuhan) adalah
faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak dari masa pembuahan
sampai masa selanjutnya. Nature dan nurture ini merupakan dua
faktor yang mempengaruhi karakteristik individu.
Adanya karakteristik individu yang
dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan tersebut jelas membawa implikasi
terhadap proses pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, proses pendidikan di
sekolah harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik secara individu.
Berdasarkan pemahaman ini, maka secara esensial proses belajar mengajar yang
dilaksanakan guru adalah menyediakan kondisi yang kondusif agar masing-masing
individu peserta didik dapat belajar secara optimal, meskipun wujudnya mereka
itu datang dan ada secara berkelompok. Ini berarti bahwa di dalam proses
belajar mengajar, setiap individu peserta didik memerlukan perlakuan yang
berbeda,sehingga srtategi dan usaha pelaksanaannya pun berbeda-beda dan
bervariasi.
Pembicaraan
mengenai karakteristik individu peserta didik, ada 3 hal yang perlu
diperhatikan:
1. Karakteristik yang berkenaan dengan
kemampuan awal (prerequisite skills), seperti kemampuan
intelektual, kemampuan berfikir dan hal-hal yang berkaitan dengan psikomotor.
2. Karakteristik yang berhubungan dengan
latar belakang dan status sosio-kultural.
3. Karakteristik yang berkenaan dengan
perbedaan-perbedaan kepribadian, seperti sikap, perasaan, minat dan lain-lain
Pemahaman karakteristik ini sangat penting dalam
proses belajar mengajar, sehingga bagi seorang guru khususnya, informasi mengenai
karakteristik individu sangat berguna dalam memilih dan menentukan pola-pola
pengajaran yang lebih tepat, yang dapat menjamin kemudahan belajar bagi setiap
peserta didik. Di samping itu, pemahaman atas karakteristik individu peserta
didik juga sangat bermanfaat bagi guru dalam memberikan motivasi dan bimbingan
bagi setiap individu peserta didik ke arah keberhasilan belajarnya.[11]
Adapun menurut An-Nahlawi karakteristik yang harus
dimiliki oleh pendidik adalah:
1. Bersifat ikhlas.
2. Mempunyai watak dan sifat rubbaniyah.
3. Bersifat sabar dalam mengajar.
4. Jujur dalam menyampaikan apa yang
diketahuinya.
5. Mampu menggunakan metode mengajar yang
bervariasi.
6. Mampu mengelola kelas dan mengetahui
psikis peserta didik, tegas dan proposional.[12]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari penjelasan
di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.
Peserta
didik dalam proses pendidikan membutuhkan binaan dan bimbingan agar menjadi
manusia yang cakap. Sedangkan menurut psikolgis peserta didik yang sedang
berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis.
2.
Teori-teori
tentang hakikat peserta didik mencangkup psikodinamika, behavioristik,
humanistik dan psikologi transpersonal.
3.
Manusia
sebagai makhluk individual yang terdiri dari unsur jasmani dan rohani memiliki
potensi-potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan untuk
membentuk individu yang optimal.
4.
Perbedaan
individu mencangkup perbedaan fisik, perbedaan intelegensi, perbedaan kecakapan
bahasa, perbedaan psikologis, perbedaan latar belakang dan perbedaan bakat.
5.
Karakteristik
setiap individu peserta didik itu berbeda-beda, untuk itu guru sebaiknya
memahami karakteristik masing-masing setiap individu agar proses pembelajaran
berjalan dengan lancar dan mudah.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2009.
Fatimah, Endang. Psikologi Perkembangan. Bandung: Pustaka
Setia, 2008.
Ramli, M. Hakikat Pendidik dan Peserta Didik.
Tarbiyah Islamiyah, Volume 5, Nomor 1, 2015.
Syahid Ahmad,
dkk. Jurnal IQRA: Ilmu Pendidikan dan KeIslaman. Palu: Fakultas Agama
Islam Universitas Muhammadiyah, 2010. Volume 6, Nomor 1.
[1] Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 39.
[2] ibid., 42.
[3] Ibid.,
43.
[5] Ahmad Syahid,
dkk, Jurnal IQRA: Ilmu Pendidikan dan KeIslaman (Palu: Fakultas Agama Islam Universitas
Muhammadiyah, 2010), Volume 6, Nomor 1. 105.
[6] Ibid., 45.
[7] Ibid.,
40-48
[9] Ibid.,
51-56
[10] Enung Fatimah,
Psikologi Perkembangan (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 33-34.
[11] Desmita, Psikologi
Perkembangan,. 56-58.
[12] M. Ramli, Hakikat
Pendidik dan Peserta Didik, Tarbiyah Islamiyah, Volume 5, Nomor 1, 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar