Rabu, 22 Maret 2017

Variasi individual peserta didik






VARIASI INDIVIDUAL PESERTA DIDIK
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Perkembangan Peserta Didik”
Dosen Pengampu:
Choirul Annisa, M. Pd


Kelompok 3:
Nurul Fadhilla                         932121415
Dewi Nur Jamilah                   932117715
Khulasotun Nikmah                932128515
Ngarofatul Hanifah                 932144915


KELAS G
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KEDIRI
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar belakang
Dalam kesempatan ini, dalam makalah ini saya akan mengkaji beberapa  indikator yakni  pertama  tentang  definisi peserta didik, teori-teori psikologi tentang hakikat peserta didik, peran peserta didik sebagai makhluk individual, perbedaan individu peserta didik dan implikasinya dalam pendidikan. Semua indikator tersebut sekaligus sebagai rumusan masalah tentang variasi individual peserta  didik. Sehingga  dengan  mengacu  pada teori-teori, peran dan perbedaan serta implikasinya maka  dapat  diketahui  variasi individual peserta didik.
B.            Rumusan masalah
1.    Apa pengertian peserta didik?
2.    Bagaimana teori-teori psikologi tentang hakikat peserta didik?
3.    Apa peran peserta didik sebagai makhluk individual?
4.    Bagaimana perbedaan individu peserta didik?
5.    Bagaimana karakteristik individu dan implikasinya dalam pendidikan?
C.           Tujuan
1.    Mengetahui pengertian dari peserta didik.
2.    Memahami teori-teori psikologi tentang hakikat peserta didik.
3.    Memahami peran peserta didik sebagai makhluk individual.
4.    Mengetahui perbedaan individu peserta didik.
5.    Mengetahui dan memahami karakteristik individu dan implikasinya dalam pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian Peserta Didik
Peserta didik merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan. Peserta didik sering disebut sebagai “raw material” (bahan mentah). Berikut pengertian peserta didik menurut berbagai pandangan:
1.        Pandangan pedagogik
Peserta didik dipandang sebagai manusia, manusia yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan agar menjadi manusia yang cakap.
2.        Pandangan psikologis
Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis.
3.        Pandangan UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4
Peserta didik sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur dan jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Berdasarkan beberapa definisi tentang peserta didik yang disebutkan,  maka dapat disimpulkan bahwa peserta didik individu yang memiliki jumlah karakteristik, diantaranya:
1.        Peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas.
2.        Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang.
3.        Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
4.        Peserta didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.[1]


B.            Teori-teori Psikologi tentang Hakikat Peserta Didik
Berikut ini akan diuraikan beberapa teori psikologi tentang hakikat manusia tersebut.
1.    Pandangan Psikodinamika
Merupakan teori psikologi yang berupaya menjelaskan hakikat dan perkembangan tingkah laku (kepribadian) manusia. Menurut Sigmund Freud dalam teorinya “teori psikoanalitis” bahwa tingkah laku manusia adalah hasil dari tenaga yang beroperasi di dalam pikiran (tanpa disadari individu). Baginya, hanya sebagian kecil dari tingkah laku manusia yang muncul dari proses mental yang disadari, sebaliknya yang paling besar mempengaruhi tingkah laku manusia adalah ketiksadaran. Disini Freud meyakini bahwa tingkah laku kita itu didorong oleh motif-motif di luar alam sadar kita dan konflik yang tidak kita sadari.
Jadi kesimpulan menurut pandangan ini, bahwa tingkah laku manusia lebih ditentukan dan dikontrol oleh kekuatan psikologis, naluri-naluri irasional (terutama naluri menyerang dan naluri seks) yang sudah ada pada diri individu.
Ide-ide pokok tentang tingkah laku manusia, Freud kemudian membedakan kepribadian manusia atas 3 unit mental atau struktur psikis, yaitu id, ego dan superego. Meskipun ketiga struktur psikis tersebut mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dan dinamikanya sendiri-sendiri, tetapi ketiganya saling berhubungan, sehingga sulit untuk memisahkan pengaruhnya satu sama lain dalam fenomena tingkah laku manusia.
Id merupakan aspek biologis kepribadian karena berisikan unsur biologis, termasuknya di dalamnya dorongan-dorongan dan impuls-impuls instinktif yang lebih dasar (lapar, haus, seks dan agresif).
Ego merupakan aspek psikologis kepribadian karena timbul dari kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia nyata dan menjadi perantara antara kebutuhan instinktif organisme dengan keadaan lingkungan. Ego berkembang pada tahun pertama dan merupakan aspek eksekutif atau “executive branch” (badan pelaksana) kepribadian, karena fungsi utama ego adalah : (1) Menahan penyaluran dorongan. (2) Mengatur desakan dorongan-dorongan yang sampai pada kesadaran. (3) Mengarahkan suatu perbuatan agar mencapai tujuan-tujuan yang dapat diterima. (4) Berpikir logis dan (5) Mempergunakan pengalaman emosi-emosi kecewa atau kesal sebagai tanda adanya sesuatu yang salah, yang tidak benar, sehingga kemudian dapat, dikategorikan dengan hal-hal lain untuk memutuskan apa yang akan dilakukan sebaik-baiknya.[2]
Superego adalah aspek sosiologis kepribadian karena merupakan wakil nilai-nilai tradisional dan cita-cita masyarakat sebagaimana yang ditafsirkan orangtua kepada anak-anaknya melalui berbagai perintah dan larangan. Superego mencerminkan nilai-nilai moral dari self yang ideal, yang disebut “ego ideal” dan berfungsi : (1) Sebagai hati nurani atau penjaga moral internal yang mengawasi ego dan  memberikan penilaian tentang benar atau salah. (2) Merintangi impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif. (3) Mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realitas dengan tujuan-tujuan moralitas. (4) Menentukan cita-cita mana yang akan diperjuangkan dan (5) Mengajar kesempurnaan.
Superego bekerja menurut prinsip moral (moral principle), yaitu menuntut kepatuhan yang ketat terhadap standar moral. Karena mengikuti prinsip moral, superego cenderung untuk menentang, baik id maupun ego, dan membuat dunia menurut gambarannya sendiri. Tetapi superego sama seperti id, bersifat tidak rasional, dan sama seperti ego, melaksanakan kontrol atas instink-instink. Berbeda dengan ego, superego tidak hanya menunda pemuasan instink, tetapi tetap berusaha untuk merintanginya.[3]
2.    Pandangan Behavioristik
Behavioristik adalah sebuah aliran dalam pemahaman tingkah laku manusia yang dikembangkan oleh John B. Watson (1878-1958), seorang ahli psikologi Amerika pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika. Perspektif behavioral ini berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku manusia.[4] Dalam aliran ini tingkah dalam belajar akan berubah kalau ada stimulus dan respon. Stimulus dapat berupa prilaku yang diberikan pada siswa, sedangkan respon berupa perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa, dengan demikian teorisme pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan.[5] Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan-aturan, bisa diramalkan, dan bisa dikendalikan.
Freud melihat bahwa tingkah laku kita dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak rasional, teoritikus behavioristik melihat kita sebagai hasil pengaruh lingkungan yang membentuk dan memanipulasi tingkah laku kita. Menurut teoritikus behavior, manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif, yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang berasal dari luar. Berdasarkan pemahaman ini, maka kepribadian individu menurut teori dapat dikembalikan kepada hubungan antara individu dan lingkungannya. Manusia datang ke dunia itu tidak dengan membawa ciri-ciri yang pada dasarnya “baik atau buruk”, tetapi netral. Hal-hal yang mempengaruhi perkembangan kepribadian individu selanjutnya semata-mata bergantung pada lingkungannya.
Gagasan utama dalam aliran behavioristik ini adalah bahwa untuk memahami tingkah laku manusia diperlukan pendekatan yang objektif, mekanistik dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengondisian. Menurut Watson, adalah tidak bertanggung jawab dan tidak ilmiah mempelajari tingkah laku manusia semata-mata didasarkan atas kejadian-kejadian subjektif, yakni kejadian-kejadian yang diperkirakan terjadi di dalam pikiran, tetapi tidak dapat diamati dan diukur.


3.    Pandangan Humanistik
Teori humanistik muncul pada pertengahan abad ke-20 sebagai reaksi teori psikodinamik dan behavioristik. Para teoritikus humanistik, seperti Carl Rogers (1902-1987) dan Abraham Maslow (1908-1970) menyakini bahwa tingkah laku manusia tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari konflik-konflik yang tidak disadari maupun sebagai hasil pengondisian (conditioning) yang sederhana. Teori ini menyiratkan penolakan terhadap pendapat bahwa tingkah laku manusia semata-mata ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Sebaliknya teori ini melihat manusia sebagai aktor dalam drama kehidupan, bukan reaktor terhadap instink atau tekanan lingkungan. Teori ini berfokus pada pentingnya pengalaman disadari yang bersifat subjektif dan self direction.
Para teoritikus humanistik mempertahankan bahwa manusia memiliki kecenderungan bahwa untuk melakukan self-actualization untuk berjuang menjadi apa yang mereka mampu.[6]
Menurut Rogers, salah seorang tokoh aliran humanistik, prasyarat yang terpenting bagi aktualisasi diri adalah konsep diri yang luas dan fleksibel, sesuatu yang memungkinkan kita untuk menyerap secara luas seluruh pengalaman dan mengekspresikan diri kita secara penuh. Konsep diri sebagian besar merupakan hasil pengalaman kita pada waktu kecil, terutama pengalaman bersama orang tua kita sendiri. Semua anak secara alamiah mendambakan kehangatan dan penerimaan.
Rogers menyakini bahwa orang tua mempunyai peran yang besar dalam membantu anak-anak mereka mengembangkan self esteem dan menempatkan mereka pada jalur self actualization dengan menunjukan pada mereka unconditional positive regard memuji mereka berdasarkan nilai dalam diri mereka tanpa memandang perilaku mereka pada saat itu. Dengan konsep diri ini yang demikian, anak akan berusaha menjadi apa yang diinginkan oleh orang lain, dan tidak berusaha menjadi apa yang diinginkan oleh orang lain, dan tidak berusaha menjadi apa yang sebenarnya ia inginkan.
Lebih jauh Rogers mengatakan bahwa orang saling menyakiti satu sama lain atau menjadi antisosial dalam tingkah laku mereka sebenarnya adalah karena mereka frustasi dalam usaha untuk mencapai potensi unik mereka. Namun ketika orangtua dan orang lain memperlakukan anak dengan cinta dan toleransi untuk perbedaan mereka, anak-anak juga akan tumbuh menjadi penuh cinta, sekalipun beberapa dari nilai dan kesukaan mereka berbeda dengan pilihan orangtua mereka.
Jadi, dalam teori humanistik, manusia digambarkan secara optimistik dan dengan harapan.di dalam diri manusia terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif. Manusia digambarkan sebagi individu yang aktif, bertanggungjawab, mempunyai potensi kreatif, bebas (tidak terikat oleh belenggu masa lalu), berorientasi ke depan, dan selalu berusaha untul self fulfillment (mengisi diri sepenuhnya untuk beraktualisasi).
4.    Pandangan Psikologi Transpersonal
Psikologi ini sebenarnya merupakan kelanjutan atau lebih tepatnya pengembangan dari psikologi humanistik.
            The states of conciousness atau lebih populernya disebut the althere stated of conciousness adalah pengalaman seseorang melewati batas-batas kesadaran biasa, seperti pengalaman-pengalaman alih dimensi, memasuki alam-alam kebatinan, kesatuan mistik, komunikasi batiniah, pengalaman meditasi, dan sebagainya. Demikian juga mengenai potensi-potensi luhur manusia menghasilkan telaah-telaah luhur seperti altereed states of conciousness, extra sensory perception, transendensi diri, kerohanian, potensi luhur dari paripurna, dimensi di atas alam kesadaran, mistik, paranormal, praktek-praktek keagamaan di kawasan Timur dan berbagai belahan dunia lainnya dan sebagainya.
            Dari hasil penelitian ini, Maslow berkesimpulan bahwa pengalaman keagamaan adalah peak experience, plateau dan farthes dan reaches of humannature. Oleh sebab itu kata Maslow, psikologi belum sempurna difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Psikologi transpersonal menunjukan bahwa diluar alam kesadaran biasa terdapat ragam dimensi lain yang luar biasa potensialnya serta mengajarkan praktik-praktik untuk mengantarkan manusia pada kesadaran spiritual, di atas ego, ide, dan superego-nya Freud.[7]
C.           Peserta Didik sebagai Makhluk Individual
Manusia sebagai makhluk individual adalah bahwa manusia merupakan keseluruhan atau totalitas yang tidak dapat dibagi. Maksudnya manusia tidak dapat dipisahkan dari jiwa dan raganya, rohani dan jasmaniahnya. Setiap manusia memiliki beberapa potensi manusiawi, seperti bakat, minat, kebutuhan sosial, emosional, personal. Dan kemampuan jasmaniah. Potensi-potensi itu perlu dikembangkan melalui proses pendidikan dan pengajaran, sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara utuh menjadi manusia dewasa atau matang.
Peserta didik memiliki ciri khas yang sesuai dengan corak kepribadian dan kemampuan masing-masing individu itu tidak sama, maka pribadi yang terbentuk dalam proses tersebut juga berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain.[8]
D.           Perbedaan Individual Peserta Didik
1.    Perbedaan Fisik
Perbedaan individual dalam fisik tidak hanya terbatas pada ciri-ciri yang diamati dengan panca indera, seperti : tinggi badan, warna kulit, jenis kelamin, rambut, nada suara atau bau keringat, tetapi juga ciri lain yang hanya dapat diketahui setelah diadakan pengukuran. Usia, berat badan, kecepatan lari, golongan darah, pendengaran, penglihatan dan semacamnya merupakan ciri-ciri yang tidak dapat diamati perbedaannya dengan pendindraan.
2.    Perbedaan Intelegensi
Intelegensi merupakan kemampuan mental, pikiran, atau intelektual dan merupakan bagian dari proses-proses kognitif pada tingkatan yang lebih tinggi. Atau dapat pula dipahami sebagian kemampuan untuk menggunakan konsep yang abstrak secara efektif dan kemampuan untuk memahami hubungan dan mempelajari dengan cepat. Setiap peserta didik memiliki intelegensi yang berbeda. Ada yang tinggi, sedang dan rendah yang dapat diketahui melalui tes IQ.
Dengan adanya perbedaan individual dalam aspek intelegensi ini, maka guru sekolah akan mendapati anak dengan kecerdasan yang luar biasa, anak yang mampu memecahkan masalah dengan cepat, mampu mampu berfikir abstrak dan kreatif. Sebaliknya guru juga akan mendapati anak yang kurang cerdas, sangat lambat dan bahkan hampir tidak mampu mengatasi masalah yang mudah sekalipun.
3.    Perbedaan Kecakapan Bahasa
Bahasa merupakan kemampuan individu yang sangat penting dalam proses belajar disekolah. Kemampuan berbahasa adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata, dan kalimat yang bermakna, logis dan sistematis.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak adalah nature dan nurture (pembawaan dan lungkungan). Jadi antara individu satu dan yang lain, perkembangan bahasanya bervariasi.
4.    Perbedaan Psikologis
Psikologi setiap anak itu pasti berbeda, ada anak yang mudah tersenyum, gampang marah, berjiwa sosial, egois, cengeng, malas, rajin, murung dan lainnya.
Persoalan psikologi itu sangat sulit dipahami secara cepat, sebab menyangkut apa yang ada di dalam jiwa dan perasaan peserta didik. Oleh karena itu, kita calon seorang guru dituntut untuk memahami kejadian psikologis peserta didik, dengan cara pendekatan kepada peserta didik secara pribadi. Dengan mendekati dan mengenalnya secara mendalam.[9]
5.    Perbedaan Latar Belakang
          Latar belakang keluarga, baik dilihat dari segi sosio-ekonomi maupun sosio-kultural adalah berbeda-beda. Perbedaan latar belakang dan pengalaman dapat memperlancar atau menghambat kemampuan atau prestasi seseorang. Pengalaman anak di rumah mempengaruhi kemauan dan keterampilan untuk berprestasi dalam situasi belajar yang disajikan.
6.    Perbedaan Bakat
          Bakat merupakan pembawaan seseorang sejak lahir, bakat akan berkembang secara baik jika mendapat dorongan, sebaliknya tidak akan berkembang jika tidak mendapatkan dorongan. Dalam hal ini peran pendidikan sangat penting untuk mengembangkat bakat.[10]
E.            Karakteristik Individu Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Karakteristik individu adalah kelakuan dan kemampuan yang ada pada individu sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungannya. Untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu, baik dalam hal fisik, mental maupun emosional ini biasanya digunakan istilah nature dan nurture. Nature (alam, sifat dasar) adalah karakteristik individu atau sifat khas seseorang yang dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan. Nurture (pemeliharaan, pengasuhan) adalah faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak dari masa pembuahan sampai masa selanjutnya. Nature dan nurture ini merupakan dua faktor yang mempengaruhi karakteristik individu.
Adanya karakteristik individu yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan tersebut jelas membawa implikasi terhadap proses pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, proses pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik secara individu. Berdasarkan pemahaman ini, maka secara esensial proses belajar mengajar yang dilaksanakan guru adalah menyediakan kondisi yang kondusif agar masing-masing individu peserta didik dapat belajar secara optimal, meskipun wujudnya mereka itu datang dan ada secara berkelompok. Ini berarti bahwa di dalam proses belajar mengajar, setiap individu peserta didik memerlukan perlakuan yang berbeda,sehingga srtategi dan usaha pelaksanaannya pun berbeda-beda dan bervariasi.
              Pembicaraan mengenai karakteristik individu peserta didik, ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
1.    Karakteristik yang berkenaan dengan kemampuan awal (prerequisite skills), seperti kemampuan intelektual, kemampuan berfikir dan hal-hal yang berkaitan dengan psikomotor.
2.    Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosio-kultural.
3.    Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian, seperti sikap, perasaan, minat dan lain-lain
Pemahaman karakteristik ini sangat penting dalam proses belajar mengajar, sehingga bagi seorang guru khususnya, informasi mengenai karakteristik individu sangat berguna dalam memilih dan menentukan pola-pola pengajaran yang lebih tepat, yang dapat menjamin kemudahan belajar bagi setiap peserta didik. Di samping itu, pemahaman atas karakteristik individu peserta didik juga sangat bermanfaat bagi guru dalam memberikan motivasi dan bimbingan bagi setiap individu peserta didik ke arah keberhasilan belajarnya.[11]
Adapun menurut An-Nahlawi karakteristik yang harus dimiliki oleh pendidik adalah:
1.      Bersifat ikhlas.
2.      Mempunyai watak dan sifat rubbaniyah.
3.      Bersifat sabar dalam mengajar.
4.      Jujur dalam menyampaikan apa yang diketahuinya.
5.      Mampu menggunakan metode mengajar yang bervariasi.
6.      Mampu mengelola kelas dan mengetahui psikis peserta didik, tegas dan proposional.[12]




BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Peserta didik dalam proses pendidikan membutuhkan binaan dan bimbingan agar menjadi manusia yang cakap. Sedangkan menurut psikolgis peserta didik yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis.
2.      Teori-teori tentang hakikat peserta didik mencangkup psikodinamika, behavioristik, humanistik dan psikologi transpersonal.
3.      Manusia sebagai makhluk individual yang terdiri dari unsur jasmani dan rohani memiliki potensi-potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan untuk membentuk individu yang optimal.
4.      Perbedaan individu mencangkup perbedaan fisik, perbedaan intelegensi, perbedaan kecakapan bahasa, perbedaan psikologis, perbedaan latar belakang dan perbedaan bakat.
5.      Karakteristik setiap individu peserta didik itu berbeda-beda, untuk itu guru sebaiknya memahami karakteristik masing-masing setiap individu agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan mudah.




DAFTAR PUSTAKA

Desmita. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya,  2009.
Fatimah, Endang. Psikologi Perkembangan. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Ramli, M.   Hakikat Pendidik dan Peserta Didik. Tarbiyah Islamiyah, Volume 5, Nomor 1, 2015.
Syahid Ahmad, dkk. Jurnal IQRA: Ilmu Pendidikan dan KeIslaman. Palu: Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah, 2010. Volume 6, Nomor 1.



[1] Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik  (Bandung: Remaja Rosdakarya,  2009), 39.
[2] ibid., 42.
[3] Ibid.,  43.
[4] Ibid., 44.
[5] Ahmad Syahid, dkk, Jurnal IQRA: Ilmu Pendidikan dan KeIslaman  (Palu: Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah, 2010), Volume 6, Nomor 1. 105.
[6] Ibid., 45.
[7] Ibid., 40-48
[8] Ibid., 48-51
[9] Ibid., 51-56
[10] Enung Fatimah,  Psikologi Perkembangan  (Bandung: Pustaka Setia,  2008), 33-34.
[11] Desmita, Psikologi Perkembangan,. 56-58.
[12] M. Ramli, Hakikat Pendidik dan Peserta Didik, Tarbiyah Islamiyah, Volume 5, Nomor 1, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sertifikat Essay