Senin, 13 Februari 2017

Sejarah Pendidikan Islam




MAKALAH

POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA PERIODE DINASTI ABBASIYAH


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

“SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM”

Dosen pengampu: Erwin Indrioko, M. Pd. I







Disusun oleh :



NURUL FADHILLA                     (932121415)

MEI SULIS SETIAWATI                 (932120715)


KELAS K

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KEDIRI

2016


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dalam sejarahnya, pendidikan Islam telah mengalami pasang surut. Dari zaman Rasulullah SAW., hingga tiga rezim sesudahnya (kekhalifahan Rayidin, Daulah Umayyah, dan Abbasiyah) masing-masing dengan karakteristik perkembangan yang beragam sesuai dinamika yang berkembang pada masa itu. Masa keemasan Islam atau sering disebut peradaban Islam dalam bidang pendidikan ditancapkan pada masa Daulah Abbasiyah. Sebuah rezim yang dalam sejarah Islam dinisbatkan dari mana silsilah keluarga Nabi Muhammad SAW., al-Abbas (paman Nabi). Kemajuan yang pesat diperoleh dinasti Abbasiyah dalam berbagai bidang kehidupan pada masa itu untuk sekedar membandingkan dengan peradaban Islam kini secara jujur diakui, belum tertandingi.

Masa ini dimulai dengan berkembang pesatnya kebudayaan Islam, yang ditandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah formal serta universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam. Lembaga-lembaga pendidikan, sekolah-sekolah dan universitas-universitas tersebut nampak sangat dominan pengaruhnya dalam membentuk pola kehidupan dan pola budaya kaum muslimin. Berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang melalui lembaga pendidikan itu menghasilkan pembentukan dan perkembangan berbagai macam aspek budaya kaum muslim.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana sejarah pendidikan Islam masa Bani Abbasiyah?

2.      Apa saja tujuan pendidikan pada Masa Abbasiyah?

3.      Apa saja bangunan-bangunan untuk pendidikan pada Masa Abbasiyah?

4.      Apa saja perkembangan ilmu pada Masa Abasiyah?

5.      Apa saja metode pendidikan pada Masa Abbasiyah?

C.    Tujuan

1.      Mengetahui dan memahami bagaimana sejarah pendidikan Islam pada masa Bani Abbasiyah.

2.      Mengetahui tujuan pendidikan pada Masa Abbasiyah.

3.      Mengetahui bangunan-bangunan pada Masa Abbasiyah.

4.      Mengetahui dan memahami perkembangan ilmu pada Masa Abbasiyah.

5.      Mengetahui metode pendidikan pada Masa Abbasiyah.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Sejarah Pendidikan Islam Masa Bani Abbasiyah

       Sejak lahirnya agama Islam, lahirlah pendidikan dan pengajaran Islam, pendidikan dan pengajaran Islam  itu terus tumbuh dan berkembang pada masa khulafaurasyidin dan masa bani Umayyah. Pada permulaan  masa Abbasiyah pendidikan dan pengajaran berkembang dengan sangat hebatnya di seluruh negara Islam. Sehinggalahir sekolah-sekolah yang tidak terhitung banyaknya, tersebar di kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan pemuda berlomba-lomba untuk menuntut ilmu pengetahuan, pergi kepusat-pusat pendidikan, meninggalkan kampung halamannya karena cinta akan  ilmu pengetahuan. Kerajaan Islam di Timur yang berpusat di Bagdad dan Cordova telah menunjukan dalam segala cabang ilmu pengetahuan sehingga kalau kita buka lembaran sejarah dunia pada masa keemasan, yang bermula dengan berdirinya kerajaan Abbasiyah di Bagdad, pada tahun 750 M dan berakhir dengan kerajaan Abbasiyah pada tahun 1258 M.[1]

       Pendidikan Islam dan segala aspeknya kekuasaan dinasti bani abbassiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti bani Umayyah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al Abbas paman Nabi Muhammad SAW., dinasti ini didirikan oleh Abdullah Alsaffah Ibnu  Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al- Abbas. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang sempat membawa kejayaan umat Islam pada masanya. Zaman keemasan Islam dicapai pada masa dinasti-dinasti ini berkuasa. Pada masa ini pula umat Islam banyak melakukan kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya pada masa ini banyak para ilmuan dan cendikiawan bermunculan sehingga membuat ilmu pengetahuan menjadi maju pesat.

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma`mun (813-833 M). Kekayaan yang dimanfaatkan Harun Arrasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan, pada masanya sudah terdapat paling tidak sekittar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah Negara Islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi.

Al- Ma`mun pengganti Al- Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakan, untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia mengkaji penerjemah-penerjemah dari golongan kristen dan penganut golongan lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait Al-Hikmah, pusat penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi.[2]

B.     Tujuan Pendidikan pada Masa Abbasiyah

Masyarakat pada saat itu belajar tidak mengharapkan apa-apa selain dari pada memperdalam ilmu pengetahuaan. Mereka merantau ke seluruh negeri islam untuk menuntut ilmu tanpa memperdulikan susah payah dalam perjalan yang umumnya dilakukan dengan berjalan kaki atau mengendarai keledai. Tujuan mereka tidak lain untuk memuaskan jiwanya untuk menuntut ilmu.

Tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.      Tujuan keagamaan dan akhlak

Sebagaimana pada masa sebelumnya, anak-anak dididik dan diajar membaca atau menghafal Al-Qur’an, ini merupakan suatu kewajiban dalam agama, supaya mereka mengikuti ajaran agama dan berakhlak menurut agama.

2.      Tujuan kemasyarakatan

Para pemuda pada masa itu belajar dan menuntut ilmu supaya mereka dapat mengubah dan memperbaiki masyarakat, dari masyarakat yang penuh dengan kejahilan menjadi masyarakat yang bersinar ilmu pengetahuan, dari masyarakat yang mundur menuju masyarakat yang majudan makmur. Untuk mencapai tujuan tersebut maka ilmu-ilmu yang diajarkan di Madrasah bukan saja ilmu agama dan bahasa arab, bahkan juga diajarkan ilmu duniawi yang berfaedah untuk kemajuan masyarakat.[3]

C.    Bangunan-Bangunan untuk Pendidikan

       Diantara bangunan-bangunan atau sarana untuk pendidikan pada masa Abbasiyah yaitu:

1.      Madrasah yang terkenal ketika itu adalah madrasah Annidzamiyah, yang didirikan oleh seorang perdana menteri bernama Nidzamul Muluk (456-486 M). Bangunan madrasah tersebut tersebar luas di kota Bagdad, Balkan, Muro, Tabaristan, Naisabur dan lain-lain.

2.      Kuttab, yakni tempat belajar bagi para siswa sekolah dasar dan menengah. Dalam ensiklopedi  Islam  dijelaskan  bahwa  Kuttab  adalah  sejenis  tempat belajar  yang  mula-mula  lahir  di  dunia  Islam,  pada  awalnya kuttab berfungsi sebagai  tempat  memberikan pelajaran  menulis  dan  membaca  bagi  anak-anak dan  dinyatakan  bahwa kuttab ini  sudah ada  di  negeri  Arab  sebelum  datangnyaagama  Islam,  namun  belum  dikenal.  Di  antara penduduk  Mekah  yang  pernah belajar adalah Sofwan bin Umayyah bin Abdul Syam.[4]

3.      Majlis Munadharah, tempat pertemuan para pujangga, ilmuan, para ulama, cendikiawan dan para filosof dalam menyeminarkan dan mengkaji ilmu yang mereka geluti.[5]

4.      Bait al-Hikmah, yaitu perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Instuisi ini merupakan kelanjutan dari instuisi yang  serupa  di  masa  imperium  Sasania Persia  yang  bernama Jundishapur Academy. Perbedaannya, pada masa Persia institusi ini hanya menyimpan puisi-puisi dan cerita-cerita untuk Raja, sedangkan pada masa Abbasiyah (Harun AlRasyid)  instutusi  ini  diberi  nama Khizanah al-Hikmah yang  berfungsi  sebagai perpustakaan  dan  pusat  penelitian.   Pada  masa  al-Makmun  diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah dipergunakan untuk menyimpan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium dan bahkan Etiopia dan India.[6]

D.    Perkembangan Ilmu pada Masa Abasiyah

       Gerakan  pembangunan  ilmu  secara  besar-besaran  dirintis  oleh  khalifah  Ja'far Al-Mansyur  setelah  ia  mendirikan  kota  Bagdad  dan  menjadikannya  sebgai  ibu  kota Negara. Ia menarik banyak ulama' dan para ahli dari berbagai daerah untuk dating dan  tinggal  di  Bagdad.  Ia  merangsang  pembukuan  ilmu  agama  seperti  Fiqh,  Tafsier, Tauhied, Haditsatau ilmu lainnya seperti ilmu bahasa dan ilmu sejarah.

1.      Pekembangan ilmu naqli

       Ilmu naqli adalah Ilmu yang bersumber dari naqli (Al -Qur'an dan Hadits) yang erat kaitannya dengan agama Islam.Ilmu naqli yang berkembang pada masa itu di antaranya :

a.      Ilmu Tafsier

       Para  mufassir  yang  masyhur  pada  zaman  Abbasiyah  diantaranya  Ibnu Jarir  at-Thabary  dengan  tafsienya  sebanyak  300  juta,  Ibnu  at-thiyah  alAndalusi,  As-Suda  (Tafsir  bil  Ma’tsur),  Abu  Bakar  Asma,  Abu  Muslim Muhammad (tafsir bir Ra’yi).[7]

b.      Ilmu Hadist

       Dalam ilmu hadist tokoh yang ialah Imam Bukhari yang telah mengumpulkan hadist sebanyak 7257 hadist, setelah diteliti  ditemukan  4000  hadist  shahih, semuanya  terkumpul  dalam  bukunya, Shahih Bukhari, Imam Muslim terkenal dengan bukunya Shahih Muslim. Buku hadist  lainnya adalah Sunan  Abu Daud oleh Abu Daud, Sunan al Turuzi oleh Imam al Turmuzi, Sunan al Nasa’i oleh al Nasa’I. Sunan Ibnu majah oleh Ibnu Majah. Keenam buku hadist tersebut lebih populer disebut Kitan al Sittah.

c.       Ilmu Tasawuf

       Tokoh yng terkenal antara lain: Al Ghazali seorang ulama sufi dengan karyanya yang beredar  dan  berpengaruh  sampai  sekarang  yaitu  buku  Ihya  ‘ulumuddin yang  sebanyak  lima  jilid,  Al  Hallaj  dengan  bukunya  al  Tashawuf,  Al-Qusyairiyat fi Ilmu al-tashawuf.

2.      Perkembangan Ilmu Aqliyah

a.      Ilmu Filsafat

      Filosof pertama, al-Kindi atau Abu Yusuf ibn Ishaq, ia memperoleh gelar “filosof  bangsa  Arab” dan  ia  memang  merupakan  representasi  pertama  dan terakhir  dari  seorang  murid  Aristoteles  di  dunia  Timur  yang  murni keturunan Arab. Felosof selanjutnya adalah dilanjutkan  oleh  al-Farabi,  seorang keturunan  Suriah.  Di  samping  sejumlah  komentar  terhadap  Aristoteles  dan filosof  Yunani  lainnya,  al -Farabi  juga  menulis  berbagai  karya  tentang psikologi,politik,  dan  metafisika.  Salah  satu  karya  trbaiknya  adalah  Risalah Fushush  al-Hakim (Risalah  Mutiara  Hikmah)  dan  Risalah  fi  Ara  Ahl al-Madinah al-Fadhilah (Risalah tentang Pendapat Penduduk Kota Ideal).

b.      Ilmu Kedokteran

       Pada  masa  Daulah  Abbasiyah  perhatian khalifah  semakin  meningkat terhadap  ilmu  kedokteran  dan  mendorong  para ulama untuk mendalami ilmu ini. Ilmuwan muslim dalam bidang ini antara lain al-Hazen,  ahli  mata  dengan karyanya  optics  dan  Ibnu  Sina  dengan  bukunya Qamm fi Tibb.[8]

c.       Ilmu Fisika dan Matematika

       Dalam  bidang  ilmuwan  yang  terkenal  sampai  sekarang  seperti  al-khawarizmi, al Farqani dan al Biruni.

d.         Ilmu Sejarah dan Geografi

       Dalam bidang sejarah, ulama yang terkenal : Ibu Ishaq, Ibnu Hisyam, al-Waqidi, Ibnu Qutaibah, al Thabari dan lain-lain. Dalam bidang ilmu bumi atau geografi  ulama  yang  terkenal  :  al  Yakubi  dengan  karyanya  al  Buldan,  Ibnu Kharzabah dengan bukunya al mawalik wa al Mawalikdan Hisyam al-Kalbi.

e.       Ilmu Astronomi

       Ulama yang terkenal dalam bidang ini adalah al Farqon dengan bukunya al-Harkat,  al  Samawat,  al  Jamawi’,  Ilmu  al  Nujum  dan  al  Bottani  dengan bukunya Tahmid al Mustaar, li Ma’na, al Mamar dan lain-lain. tokoh astronomi islam pertama adalah Muhammad al-Fazani dan dikenal sebagai alat yang dipergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama dikalangan Muslim.[9]

E.     Metode Pendidikan pada Masa Abbasiyah

Dalam proses belajar mengajar, metode pendidikan / pengajaran merupakan salah satu aspek pendidikan atau pengajaran yang sangat penting guna mentransfer pengetahuan atau kebudayaan dari seorang guru kepada para muridnya. Melalui metode pengajaran terjadi proses internalisasi dan pemilikan pengetahuan oleh murid hingga murid dapat menyerap dan memahami dengan baik apa yang telah disampaikan gurunya.

Pada masa dinasti abbasiyah metode pendidikan atau pengajaran yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi:

1.         Metode lisan

Metode lisan berupa dikte, ceramah, qira’ah dan diskusi. Metode dikte (imla’) adalah metode penyampaian pengetahuan yang dianggap baik dan aman karena dengan imla’ ini murid mempunyai catatan yang akan dapat membantunya ketika ia lupa. Metode ini dianggap penting, karena pada masa klasik buku-buku cetak seperti masa sekarang sulit dimiliki. Metode ceramah disebut juga metode as-sama’, sebab dalam metode ceramah, guru menjelaskan isi buku dengan hafalan, sedangkan murid mendengarkannya. metode qira’ah biasanya digunakan untuk belajar membaca.

2.         Metode menghafal

Metode menghafal merupakan ciri umum pendidikan pada masa ini. Murid-murid harus membaca secara berulang-ulang pelajarannya sehingga pelajaran tersebut melekat pada benak mereka, sebagaiman yang dijelaskan oleh imam hanafi, seorang murid harus membaca suatu pelajaran berulang kali sampai dia menghafalnya. Sehingga dalam proses selanjutnya murid akan mengeluarkan kembali dan mengkonstektualisasikan pelajaran yang dihafalkannya sehingga dalam diskusi dan perdebatan murid dapat merespon, membantah lawan, atau memunculkan sesuatu yang baru.

3.         Metode tulisan

Metode tulisan dianggap metode yang paling penting pada masa ini. Metode tulisan adalah pengkopian karya-karya ulama. Dalam pengkajian buku-buku terjadi proses intelektualisasi hingga tingkat penguasaan ilmu murid semakin meningkat. Metode ini disamping berguna bagi proses penguasaan ilmu pengetahuan juga sangat penting artinya bagi penggandaan teks, karena pada masa ini belum ada mesin cetak, dengan pengkopian buku-buku kebutuhan terhadap teks buku sedikit terbatasi.[10]



BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid. Pada masa pemerintahannya dilakukan sebuah gerakan penerjemah berbagai buku Yunani dengan menggaji para penerjemah dari golongan kristen dan penganut agama lainnya yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, yang salah satu karya besarnya adalah pembangunan Baitul Hikmah, sebagai pusat penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar.

2.      Tujuan pendidikan pada masa Dinasti Abbasiyah, meliputi:

§  Tujuan keagamaan dan akhlak

§   Tujuan kemasyarakatan.

3.      Bangunan-bangunan atau sarana untuk pendidikan pada masa Abbasiyah yaitu:

§  Madrasah

§  Kuttab

§  Majlis Munadharah

§  Bait al-Hikmah

4.       Perkembangan ilmu pada Masa Abbasiyah, meliputi:

§  Pekembangan ilmu naqli: Ilmu Tafsier, Ilmu Hadist, Ilmu Tasawuf

§  Perkembangan Ilmu Aqliyah: Ilmu Filsafat, Ilmu Kedokteran, Ilmu Fisika dan Matematika, Ilmu Sejarah dan Geografi, Ilmu Astronomi

5.      Metode pada masa Dinasti Abbasiyah, meliputi:

§  Metode lisan

§  Metode menghafal

§  Metode tulisan.


DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman dkk, Dudung. Sejarah Peradaban Islam: Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: LESFI, 2003.

As’ad, Mahrus. Sejarah Kebudayaan Islam. Bandung: Amirco, 1994.

Dkk, Hanun Asrohah, Sejarah Kebudayaan Islam. Mojokerto: Sinar Mulia, 2012

Rahim, Rahmawati. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana, 2008.

Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008.

Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik. Jakarta: Prenada Media, 2003.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.


Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Hidakarya Agung, 1963.





[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada,  2007), 15.
[2] Ibid.,  49.
[3] Mahmud yunus,  Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Hidakarya Agung, 1963), 46.
[4]Rahmawati Rahim, Sejarah Sosial Pendidikan Islam  (Jakarta: Kencana, 2008), 12.
[5] Mahrus As`ad, Sejarah Kebudayaan Islam(Bandung: Amirco, 1994),  25-26.
[6] Dudung Abdurrahman dkk. Sejarah Peradaban Islam: Masa Klasik Hingga Modern(Yogyakarta: LESFI, 2003), 126.
[7] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik (Jakarta: Prenada Media, 2003), 58.
[8]Ibid,.. 84.
[9] Hanun Asrohah, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam  (Mojokerto: Sinar Mulia, 2012), 92-97.
[10] Dudung, Sejarah ,..14.

Sertifikat Essay