Nama : NURUL FADHILLA
NIM : 932121415
BAB II
PEMBAHASAN
- KAJIAN TEORI
- Hakikat integrasi ilmu dan agama
Konsep hakikat integrasi ilmu dan agama yang direfleksi dari filsosof Mulla Sadra dapat dipahami dalam tiga pendekatan:
- Integrasi Ontologis
Secara ontologis, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif- interdependensif, artinya eksistensi ilmu dan agama saling bergantung satu sama lain. Tidak ada ilmu tanpa agama dan tidak agama tanpa ilmu. Ilmu dan agama secara mordial berasal dari dan merupakan bagian dari Tuhan, oleh karena ilmu adalah salah satu dari nama Tuhan, sehingga eksistensi ilmu dan agama adalah identik dan menyatu dalam eksistensi Tuhan. Penjelasan ini menegaskan bahwa eksistensi ilmu dan agama dalam dirinya sendiri tidak mengalami konflik. Apabila ada konflik sesungguhnya bukan konflik antara ilmu dan agama, melainkan konflik pemahaman ilmuwan dan agamawan.
- Integrasi epistemologi
Secara epistemologi, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif-komplementer, artinya seluruh metode yang diterapkan dalam ilmu dan agama saling melengkapi satu sama lain. Dalam pencarian kebenaran ilmu tidak hanya menerima sumber kebenaran dari empiris dan rasio saja, namun juga menerima sumber kebenaran dari intuisi dan wahyu. Kebenaran ilmiah juga tidak hanya melalui usaha/ capaian (acquired knowledge), namun juga melalui pembersihan diri dan pendekatan diri kepada Tuhan sehingga ilmu itu hadir dalam diri manusia (knowledge by presence). Oleh karena itu memiliki makna spiritual, artinya pencapaian ketinggian ilmu akan berkorelasi dengan kedekatannya kepada Tuhan. Ilmu bukan hanya sarana untuk mencapai kebenaran (kecil) namun juga mencapai kepada kenaraan (skala besar).
- Integrasi aksiologis
Secara aksiologis, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif-kualifikatif, artinya seluruh nilai (kebenaran, kabaikan, keindahan dan keilahian) saling mengkualifikasi satu dengan yang lain. Nilai kebenaran yang seringkali menjadi tolok ukur utama ilmu, merupakan kebenaran yang baik, yang indah. Ilmu tidak hanya benar-salah (nilai kebenaran) saja, namun juga termasuk didalamnya baik buruk (nilai kebaikan), indah jelek (nilai keindahan), dan sakral-profan/ halal haram (nilai keilahian). Ilmu tidak bebas nilai, ilmu tidak hanya untuk ilmu tetapi harus disinari oleh nilai tertinggi, yaitu nilai ilahian (ketuhanan). Implikasi atas saling mengkualifikasinya keseluruhan nilai dalam ilmu akan mengarahkan perkembangan ilmu menjadi ilmu yang bermoral.
- HASIL DISKUSI
Dari paparan hakikat integrasi bahwa integrasi ilmu agama dan ilmu umum memerlukan landasan filosofi yang didalamnya terdiri atas tiga dasar yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Yang didalam ontologi hubungan ilmu dan agama bergantung satu sama lain, sedangkan pada epistemologi ilmu dan agama saling melengkapi dan pada aksiologi ilmu dan agama seluruh nilai dalam tingkatan.
- TEMUAN
Integrasi ilmu dan agama yang dibangun dalam paradigma filsosof Mulla Sadra yaitu integrasi yang interdependentif-komplementer-kualifikatif, yaitu kristitalisasi dari landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis
atas ilmu.
atas ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar