Selasa, 21 Maret 2017

Puasa wajib dan puasa sunnah




 PUASA WAJIB DAN PUASA SUNNAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
“ HADITS 2 ”
Dosen pengampu: Dr. H. Anis Humaidi, M. Ag.


Disusun oleh:
Nurul Fadhilla             932121415
Ahmad Fakhrur R.      932122615
Linna Tsani luthfina    932119615
      Mei sulis setiawati       932120715   

KELAS L
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KEDIRI
2016
 
A.      PENDAHULUAN
     Berpuasa merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang ditunjuk oleh hadits.
بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلى خَمْسٍ
Artinya: Islam itu dibina di atas lima sendi.[1]
     Puasa merupakan menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa diantarnya adalah makan, minum, dan menjaga hawa nafsu dari sebelum terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa tidak hanya dilakukan pada bulan ramdhan saja, tapi puasa juga bisa dilakukan pada hari-hari biasanya misalkan pada hari senin kamis seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW puasa pada hari itu dinamakan puasa sunnah. Nabi banyak melakukan puasa-puasa sunnah lainnya diantaranya puasa Dawud, puasa Arafah, puasa Asyuro, dan lain sebagainya.
     Puasa di bulan ramadhan mempunyai keutaman yang istimewa diantaranya, dibukakan pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka, dibelenggukan syetan-syetan, dan lain sebagainya.[2]










B.       PEMBAHASAN

1.      Puasa Wajib
1.1.       Puasa Ramadhan
عَنِ اْبنِ عُمَرَرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : صَامَ النَّبِيَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ عَاشُوْرَاءَ وَاَمَرَبِصِيَامِهِ(وَفِيْ رِوَايَةِ : قَالَ : كَانَ عَاشُوْرَاءُ يَصُوْمُهُ اَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ) فَلَمَّافُرِضَ رَمضَانُ تُرِكَ (َوفِيْ رِوَايَةٍ : قَالَ : مَنْ شَاءَصَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ) وَكَا نَ عَبْدُاللهِ لاَيَصُوْمُهُ اِلاَّ أَنْ يُوَا فِقَ صَوْمَهُ
Dari Ibnu Umar, dia berkata, “Nabi SAW puasa pada hari Asyuro, dan beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu”. (dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata, “ Hari Asyuro merupakan hari dimana orang-orang jahiliyah biasa berpuasa pada hari itu). Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, maka beliau meninggalkannya”. (dalam riwayat lain Ibnu Umar berkata, “Barang siapa yang ingin berpuasa hendaknya berpuasa, dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa hendaknya tidak puasa). Abdullah (Ibnu Umar) tidak berpuasa pada hari itu, kecuali jika hari itu bertepatan dengan hari dimana dia biasa berpuasa”.[3]
           Puasa Asyuro di zaman Rasulullah Saw mengalami 4 fase :
a.       Fase pertama, Rasulullah SAW. berpuasa di Mekkah dan tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa. Aisya berkata : “Dulu orang Quraisy berpuasa Asyuro pada masa jahiliyah. Dan Nabi pun berpuasa ‘Asyuro pada masa jahiliyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa Asyuro dan mmerintahkan manusia untuk berpuasa juga. Ketika puasa ramadhan telah diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak puasa silahkan, bagi yang tidak puasa juga tidak mengapa”.
b.      Fase kedua, ketika Nabi datang di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi di puasa Asyuro, beliau juga berpuasa dan memerintahkan manusia agar puasa. Sebagaimana keterangan Ibnu Abbas diatas bahkan Rasulullah menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sekali, sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk berpuasa di hari ‘Asyuro.
c.       Fase ketiga, setelah diturunkan kewajiban untuk berpuasa Ramadhan, beliau tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untukberpuasa ‘Asyuro, dan juga tidak melarang, dan membiarkan perkaranya menjadi sunnah sebagaimana hadits Aisyah yang telah lalu.
d.      Fase keempat, pada akhir hidupnya, Nabi Muhammad SAW bertekad untuk tidak hanya puasa pada hari Asyuro saj, Nmun juga menyertakan hari tanggal 9 ‘Asyuro agar berbeda dengan puasa orang Yahudi.

حَدِيْثُ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنِ النَبِيِ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ اَوْ قَاَلَ : قَاَلَ اَبُوْالْقَاسِمِ صَلى الله عَلَيْهِ صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ, فَاِنْ غُبيَ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْاعِدةَشَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ
“Hadits Abu Hurairah RA dimana ia berkata :”Nabi SAW, atau Abul Qasim bersabda :”Berpuasalah kamu karena melihat hilal, dan berhari rayalah kamu karena melihat hilal. Apabila kamu terhalang (untuk bisa melihatnya) maka sempurnakanlah bilangan (bulan) 30 hari”.[4]
Cara menetapkan waktu puasa Ramadhan :
1.      Hisab
Hisab artinya menghitung, yakni menentukan hitungan mulai hari puasa Ramadhan, hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang ahli falak. Penetapan awal bulan Ramadhan dengan perhitungan hisab ini dengan syarat:
a.         Kita menggunakan hisab buat mengetahui tanggal satu sebagaimana kita dan juga orang yang anti hisab menggunakan hisab buat mengetahui fajar dan ghurubnya matahari, padahal menurut al-Baqarah ayat 18, bahwa kita wajib berpuasa apabila terlihat tanda putih (al-Khaitul abyadl) dan demikian juga menurut Hadits Rasulullah berbuka shaum ialah apabila Ghurub.
b.        Yang melakukan hisab itu memang ahli dalam bidang tersebut.
2.      Rukyatul hilal
     Rukyatul hilal artinya pengelihatan bulan, yakni melihat mulianya atau awal bulan Ramadhan setelah terbenam matahari pada tanggal 29 akhir sya’ban.
     Jika tidak kelihatan tanggal satu Ramadhan lantaran mendung atau hujan atau lainnya, maka hendaknya kita cukupkan bilangan Sya’ban 30 hari, lalu berpuasa.[5]

2.      Puasa Sunnah
2.1.  Puasa Arafah, Asyura, dan senin
        عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اَلْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  أَنَّ رسُوْاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ. فَقَا لَ: يُكَفِّرُاَلسَّنَةَ اَلْمَا ضِيَةَ وَالْبَا قِيَةَ, وَسُئِلَ عَنْ صَوْ مِ يَوْمِ عَا شُوْرَاءَ. فَقَا لَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ اَلْمَا ضِيَةَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اَلْإِ ثْنَيْنِ , فَقَا لَ:  ذَ لِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ, وَبُعِثْتُ فِيْهِ,   وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
Dari Abu Qotadah al-Anshory RA pernah ditanya mengenai puasa Arafah, lalu beliau menjawab: “Ia menghapus dosa-dosa tahun lalu dan yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: “Ia menghapus dosa-dosa tahun yang lalu.” Dan ketika ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab: “Ia adalah hari kelahiranku, hari aku diutus, dan hari diturunkan al-Qur’an padaku,” (HR. Muslim).[6]
            Disunnahkannya puasa hari Arafah. Puasa ini dikecualikan bagi orang-orang yang sedang wukuf di Arafah, bahwa yang lebih afdhal bagi mereka adalah tidak berpuasa, karena dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW meminta segelas air susu pada hari Arafah, lantas beliau meminumnya dan orang-orang melihatnya.
Sebagian ulama mengatakan, ‘sesungguhnya hukum ini bersifat menyeluruh, baik orang yang sedang wukuf di Arafah maupun orang yang tidak wukuf.’ Akan tetapi pendapat shahih yang dipegang oleh jumhur menyatakan bahwa puasa tersebut disyariatkan untuk selain orang yang sedang wukuf.[7]
Hari asyura adalah hari saat Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan fir’aun dan kaumnya. Kemudian ketika Nabi tiba di Madinah, maka beliau mendapti orang-orang sedang menjalankan puasa, lantas mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya ini adalah hari Allah menyelamatkan Musa dan kaunmnya, juga menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, sehingga kami berpuasa sebagai rasa syukur’. [8]

2.2.  Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal
وَعَنْ أَبِى أَيُّوبَ اَلْأَنْصَا رِيِّ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ الله عليه وسلم قَا لَ: (مَنْ صَا مَ رَمَضَا نَ, ثُمَّ أَتْبَعَهَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ)
Dari Abu Ayyub Al-Anshory RA bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa setahun.” (HR. Muslim).[9]
Penjelasan:
1.        Hadits ini adalah hadits shahih yang menunjukkan bahwa berpuasa 6 hari pada Syawal adalah sunnah. Asy-Syafi'i, Ahmad dan banyak ulama terkemuka mengikutinya. Puasa ini mencukupi puasa setahun, artinya puasa tersebut setara dengan setahun dilihat dari pahalanya. Maksudnya puasa Ramadlan (yang biasanya 30 hari) pahalanya senilai berpuasa 300 hari, karena tiap-tiap satu hari mendapat pahala 10 kali lipat. Dan 6 hari di bulan Syawwal senilai dengan puasa 60 hari, sehingga semuanya berjumlah 360 hari atau sama dengan 1 tahun.
2.        Tidak harus dilaksanakan berurutan
       Enam hari dalam bulan Syawwal itu tidak mesti harus berturut-turut yang dimulai dari tanggal 2 (tepat sehabis hari raya) sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh ummat Islam pada umumnya. Karena tidak ada penjelasan yang tegas dari agama atau keterangan yang sharih (terang) dan shahih (kuat) dari agama. Dan kita tidak boleh membuat ketentuan sendiri dalam masalah 'ibadah. Nabi sendiri tidak mengatakan, “Enam hari di bulan syawal secara berturut-turut”. Jadi, boleh dan tetap dipandang sempurna oleh syara' bila kita mengerjakan berselang-seling maupun berturut-turut yang tidak dimulai tanggal 2 Syawwal (tepat sehabis hari raya), yang penting masih dalam bulan Syawwal. Kalaupun hendak mengerjakan tepat sehabis hari raya dengan berturut-turutpun tidak mengapa, asal tidak dengan keyakinan bahwa itulah cara yang paling sah yang dituntunkan oleh syara'.
3.        Tidak boleh dilakukan jika masih tertinggal dalam Ramadhan
       Orang yang berpuasa enam hari di syawal sebelum menyelesaikan hutang puasa Ramadhannya maka tidak mendapatkan pahala puasa ini, kecuali sudah menunaikan qadha puasa ramdhan terlebih dahulu, baru kemudian disambung dengan enam hari dari syawal.[10]
               Dalam hadits ini tidak disebutkan bahwa pelaksanaannya apakah tepat setelah hari raya idul fitri atau tidak, jadi dapat dikatakan bahwa dalam pelaksanaan puasa ini tidak harus tepat pada tanggal 2 akan tetapi yang pasti harus di dalam bulan Syawwal kecuali pada waktu hari raya (tanggal 1 Syawwal).

2.3.  Puasa 3 Hari di Setiap Bulan
وَعَنْ أَبِي دَرٍّ رَضي الله عنه قَالَ : (أَمَرَ نَارَسُوْ لُ اللهِ صَلَّى للهَ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ أَنْ نَصُوْمَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ: ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَاَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ)
Abu Dzar RA berkata: “Rasululla SAW memerintahkan kita untuk berpuasa tiga hari dalam sebulan, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15(bulan-bulan hijriyah).” (HR.al-Nasa’i dan al-Tirmidzi. Hadis ini sahih menurut Ibn Hibban).[11]
            Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada pengkhususan di hari puasa sunnah 3 hari setiap bulannya. Dan Yusuf Qardhawi dalam fiqh puasa juga berpendapat bahwa perbedaan hadits dalam menetapkan hari-hari puasa menunjukkan adanya toleransi. Setiap muslim boleh saja berpuasa di awal bulan, tengah bulan, atau akhir bulan, sesuai dengan kemudahan dan kesempatan yang ia miliki. Tapi kembali kata Imam Nawawi, dalam hadits dijelaskan bahwa yang paling utama adalah di hari ke-13, 14, dan 15.

2.4.  Puasa Dawud
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍ, قَا لَ رَ سُو لُ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  أَحَبُّ الصِّيَا مِ اِلي اللهِ تَعَا لى: صِيَامُ دَاوُدَ, وَاَحَبُّ اَصَّلاةِ اِلَى اللهِ تَعَا لى:  صَلاَةُ دَاوُدَ: كَا نَ يَنَا مُ نِصْفَهُ, وَيَقُوْمُ ثَلَثَهُ وَيَنَا مُ سُدُسَهُ, وَكَا نَ يُفْطِرُ يَوْمًا, وَيَصُوْمُ يَوْمًا.
Dari Abdullah bin Amr RA dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling dicintai Allah ta’ala, adalah puasa dawud. Dan sholat yang paling dicintai Allah ta’ala, adalah sholat dawud. Dan biasa tidur setengah malam, dan bangun sepertiganya, lalu tidur lagi seperenamnya. Dia biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari. (HR. Muslim)”[12]
            Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin mengatakan: puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukanpuasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyariatkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat disamping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa.[13]

2.5.  Puasa Senin Kamis
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rosulullah, bersabda:
 تُعْرَضُ اَعْمَالُ النَّاسِ فِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ يَوْمَ اْلاِ ثْنَيْنِ وَيَوْمَ اْلخَمِيْىسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤمِنٍ اِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اَخِيْهِ شَحْناَءُ فَيَقُوْلُ  اتْرُكُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيْئًا
“Amal perbuatan manusia dilaporkan pada setiap hari jumat dua kali yaitu pada hari senin dan hari kamis, lalu setiap orang mukmin diampuni dosana kecualiorang yang sedang bersengketa dengan saudaranya., lalu dikatakan tunggulah dua orang ini sampai keduanya berdamai.”HR.Muslim.[14]
Dalam riwayat lain disebutkan:
تُفْتَحُ اَبْوَابُ اْلجَنّةِ يَوْمَ اْلِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ اْلخَمِيْىسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَايُشْرِكُ بٍا للهِ شَيْئًا, اِلَّارَجُلاً كاَ نَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اَخِيْهِ شَحْنَا ءُ فَيُقاَ لُ اَنْظِرُوْا هَدَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis, lalu di beri ampunan bagi setiap hamba yang tidak menyekutukan allah dengan suatu apapun kecuali orang yang sedang bersengketa dengan saudaranya, lalu dikatakan: perhatikan kedua orang ini sampai keduanya mau berdamai.”
               Dari hadist di atas dapat kita ketahui bahwa Nabi sering kali melaksanakan puasa pada hari senin dan kamis. Dari hadits tersebut pula dapat kita ketahui bahwa Allah swt. akan mengampuni dosa seorang muslim pada hari senin dan kamis kecuali dosa orang yang bermusuhan. Pernah Nabi di tanya tentang puasa hari senin kemudian Nabi menjawabnya: bahwa hari senin itu hari kelahiranku, dan hari senin itu Qur’an diturunkan kepadaku.[15]







C.      PENUTUP
1.             Kesimpulan
1.             Puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa dan menahan segala hawa nafsu mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan disertai niat.
2.             Puasa wajib merupakan puasa yang harus dikerjakan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa dan jika dikerjakan akan mendapat pahala. Salah contoh dari puasa wajib adalah puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan adalah puasa yang dikerjakan pada bulan Ramadhan dan hukumnya wajib bagi orang islam.
3.             Puasa sunnah adalah puasa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapatkan dosa. Puasa sunnah macam- macamnya diantaranya adalah puasa Arafah, puasa 3 hari dalam sebulan, puasa Asyuro, puasa senin kamis, puasa Dawud dan puasa 6 hari Syawal.
a.    Puasa Arafah adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.
b.    Puasa 3 hari dalam sebulan adalah puasa yang terjadi pada tanggal 13, 14, 15 Hijriyah.
c.    Puasa Asyuro adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram.
d.   Puasa senin kamis adalah puasa yang dilaksanakan pada hari senin dan kamis.
e.    Puasa Dawud adalah puasa yang dilakukan sehari puasa sehari tidak atau puasa bersilang.
f.     Puasa 6 hari Syawal adalah puasa yang dikerjakan setelah idul fitri selama 6 hari.





D.      DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Asqalani, Ibn Hajar. Bulughul Maram. Bandung: Mizan Pustaka, 2010.
Bey Arifin, H. Muktashar Sunan Abi Dawud . Semarang: Asy Syifa’, 1992.
Fuad Abdul Baihaqi, Muhammad. al-Lu’lu’ Wal Marjan jilid II. Semarang: Al-Ridha, 1993.
Daud, Ma’mur. Terjemah Hadits Shahih Muslim. Jakarta: Widjaya, 1993.
Hassan, A. Terjemah Bulughul Maram. Bandung: Diponegoro, 2006.
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh. Sifat Puasa Nabi. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012.
Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin, Syaikh. Syarh Riyadhus Sholihin. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, 1424.
Musthofa, KH Adib. Terjemah Shahih Muslim. Semarang: Asy-Syifa’, 1994.
Nashruddin Al Albani, Muhammad. Ringkasan Shahih Bukhari. Jakarta: Pustaka Azzam, 2014.
Nawawi, Imam. Syarah Al Muhadzdzab. Jakarta: Pustaka Azaam, 2013.
Zuhri, Muhammad. Kelengkapan Hadist Qudsi. Semarang: Toha Putra, 1982.



[1] Muhammad Zuhri, Kelengkapan Hadist Qudsi (Semarang: Toha Putra, 1982), 292.
[2] KH Adib Musthofa, Terjemah Shahih Muslim (Semarang: Asy-Syifa’, 1994), 291.
[3] Muhammad Nashruddin Al Albani, Ringkasan Shahih Bukhari (Jakarta : Pustaka Azzam, 2014), 458.
[4]Muhammad Fuad Abdul Baihaqi, al-Lu’lu’ Wal Marjan jilid II (Semarang: Al-Ridha, 1993), 4.
[5] A. Hassan, Terjemah Bulughul Maram (Bandung: Diponegoro, 2006), 288.
[6] Ibn Hajar al-‘Asqalani, Bulughul Maram (Bandung: Mizan Pustaka, 2010), 270.
[7] .Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Sifat Puasa Nabi (Jakarta:Darus Sunnah Press, 2012), 403.
[8] Ibid., 403.
[9]Ibn Hajar, Bulughul Maram., 270.
[10] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Sifat Puasa Nabi (Jakarta:Darus Sunnah Press, 2012), 421.
[11]Ibid., 271-272.
[12] H. Bey Arifin, Muktashar Sunan Abi Dawud (Semarang: Asy Syifa’, 1992), 254-255.
[13] Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin, Syarh Riyadhus Sholihin (Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, 1424) , 3.
[14] Imam Nawawi, Syarah Al Muhadzdzab (Jakarta: Pustaka Azaam, 2013).
[15] Ma’mur Daud, Terjemah Hadits Shahih Muslim (Jakarta: Widjaya, 1993), 271.
https://drive.google.com/open?id=0B5yb56sPJ14qcTNwakxSOEpNbGM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sertifikat Essay