PUASA WAJIB DAN PUASA SUNNAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah
“ HADITS 2 ”
Dosen pengampu: Dr. H. Anis Humaidi, M.
Ag.
Disusun oleh:
Nurul
Fadhilla
932121415
Ahmad
Fakhrur R. 932122615
Linna
Tsani luthfina 932119615
Mei
sulis setiawati 932120715
KELAS L
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2016
A.
PENDAHULUAN
Berpuasa
merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang ditunjuk oleh hadits.
بُنِيَ
اْلاِسْلاَمُ عَلى خَمْسٍ
Artinya:
Islam itu dibina di atas lima sendi.[1]
Puasa merupakan menahan segala sesuatu yang
dapat membatalkan puasa diantarnya adalah makan, minum, dan menjaga hawa nafsu
dari sebelum terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa tidak hanya
dilakukan pada bulan ramdhan saja, tapi puasa juga bisa dilakukan pada
hari-hari biasanya misalkan pada hari senin kamis seperti yang dilakukan Nabi
Muhammad SAW puasa pada hari itu dinamakan puasa sunnah. Nabi banyak melakukan
puasa-puasa sunnah lainnya diantaranya puasa Dawud, puasa Arafah, puasa Asyuro,
dan lain sebagainya.
Puasa di bulan ramadhan mempunyai keutaman
yang istimewa diantaranya, dibukakan pintu-pintu surga, ditutuplah pintu
neraka, dibelenggukan syetan-syetan, dan lain sebagainya.[2]
B.
PEMBAHASAN
1.
Puasa
Wajib
1.1. Puasa Ramadhan
عَنِ
اْبنِ عُمَرَرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : صَامَ النَّبِيَ اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلّمَ عَاشُوْرَاءَ وَاَمَرَبِصِيَامِهِ(وَفِيْ رِوَايَةِ : قَالَ : كَانَ
عَاشُوْرَاءُ يَصُوْمُهُ اَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ) فَلَمَّافُرِضَ رَمضَانُ تُرِكَ
(َوفِيْ رِوَايَةٍ : قَالَ : مَنْ شَاءَصَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ) وَكَا
نَ عَبْدُاللهِ لاَيَصُوْمُهُ اِلاَّ أَنْ يُوَا فِقَ صَوْمَهُ
Dari
Ibnu Umar, dia berkata, “Nabi SAW puasa pada hari Asyuro, dan beliau
memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu”. (dalam riwayat lain, Ibnu Umar
berkata, “ Hari Asyuro merupakan hari dimana orang-orang jahiliyah biasa
berpuasa pada hari itu). Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, maka beliau
meninggalkannya”. (dalam riwayat lain Ibnu Umar berkata, “Barang siapa yang
ingin berpuasa hendaknya berpuasa, dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa
hendaknya tidak puasa). Abdullah (Ibnu Umar) tidak berpuasa pada hari itu,
kecuali jika hari itu bertepatan dengan hari dimana dia biasa berpuasa”.[3]
Puasa Asyuro di zaman Rasulullah Saw
mengalami 4 fase :
a.
Fase
pertama, Rasulullah SAW. berpuasa di Mekkah dan tidak memerintahkan manusia
untuk berpuasa. Aisya berkata : “Dulu orang Quraisy berpuasa Asyuro pada masa
jahiliyah. Dan Nabi pun berpuasa ‘Asyuro pada masa jahiliyah. Tatkala beliau
hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa Asyuro dan mmerintahkan manusia untuk
berpuasa juga. Ketika puasa ramadhan telah diwajibkan, beliau berkata: “Bagi
yang hendak puasa silahkan, bagi yang tidak puasa juga tidak mengapa”.
b.
Fase
kedua, ketika Nabi datang di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi di puasa
Asyuro, beliau juga berpuasa dan memerintahkan manusia agar puasa. Sebagaimana
keterangan Ibnu Abbas diatas bahkan Rasulullah menguatkan perintahnya dan
sangat menganjurkan sekali, sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka
untuk berpuasa di hari ‘Asyuro.
c.
Fase
ketiga, setelah diturunkan kewajiban untuk berpuasa Ramadhan, beliau tidak lagi
memerintahkan para sahabatnya untukberpuasa ‘Asyuro, dan juga tidak melarang,
dan membiarkan perkaranya menjadi sunnah sebagaimana hadits Aisyah yang telah
lalu.
d.
Fase
keempat, pada akhir hidupnya, Nabi Muhammad SAW bertekad untuk tidak hanya
puasa pada hari Asyuro saj, Nmun juga menyertakan hari tanggal 9 ‘Asyuro agar
berbeda dengan puasa orang Yahudi.
حَدِيْثُ
اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنِ النَبِيِ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ
اَوْ قَاَلَ : قَاَلَ اَبُوْالْقَاسِمِ صَلى الله عَلَيْهِ صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ
وَاَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ, فَاِنْ غُبيَ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْاعِدةَشَعْبَانَ
ثَلاَثِيْنَ
“Hadits
Abu Hurairah RA dimana ia berkata :”Nabi SAW, atau Abul Qasim bersabda
:”Berpuasalah kamu karena melihat hilal, dan berhari rayalah kamu karena
melihat hilal. Apabila kamu terhalang (untuk bisa melihatnya) maka
sempurnakanlah bilangan (bulan) 30 hari”.[4]
Cara
menetapkan waktu puasa Ramadhan :
1.
Hisab
Hisab
artinya menghitung, yakni menentukan hitungan mulai hari puasa Ramadhan, hal
ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang ahli falak. Penetapan
awal bulan Ramadhan dengan perhitungan hisab ini dengan syarat:
a.
Kita
menggunakan hisab buat mengetahui tanggal satu sebagaimana kita dan juga orang
yang anti hisab menggunakan hisab buat mengetahui fajar dan ghurubnya matahari,
padahal menurut al-Baqarah ayat 18, bahwa kita wajib berpuasa apabila terlihat
tanda putih (al-Khaitul abyadl) dan demikian juga menurut Hadits Rasulullah
berbuka shaum ialah apabila Ghurub.
b.
Yang
melakukan hisab itu memang ahli dalam bidang tersebut.
2.
Rukyatul
hilal
Rukyatul hilal artinya pengelihatan bulan,
yakni melihat mulianya atau awal bulan Ramadhan setelah terbenam matahari pada
tanggal 29 akhir sya’ban.
Jika tidak kelihatan tanggal satu Ramadhan
lantaran mendung atau hujan atau lainnya, maka hendaknya kita cukupkan bilangan
Sya’ban 30 hari, lalu berpuasa.[5]
2.
Puasa
Sunnah
2.1.
Puasa
Arafah, Asyura, dan senin
عَنْ
أَبِي قَتَادَةَ اَلْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رسُوْاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ
عَرَفَةَ. فَقَا لَ: يُكَفِّرُاَلسَّنَةَ اَلْمَا ضِيَةَ وَالْبَا قِيَةَ,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْ مِ يَوْمِ عَا شُوْرَاءَ. فَقَا لَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ
اَلْمَا ضِيَةَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اَلْإِ ثْنَيْنِ , فَقَا لَ: ذَ لِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ, وَبُعِثْتُ
فِيْهِ, وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
Dari
Abu Qotadah al-Anshory RA pernah ditanya mengenai puasa Arafah, lalu beliau
menjawab: “Ia menghapus dosa-dosa tahun lalu dan yang akan datang.” Beliau juga
ditanya tentang puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: “Ia menghapus
dosa-dosa tahun yang lalu.” Dan ketika ditanya tentang puasa hari senin, beliau
menjawab: “Ia adalah hari kelahiranku, hari aku diutus, dan hari diturunkan
al-Qur’an padaku,” (HR. Muslim).[6]
Disunnahkannya puasa hari Arafah. Puasa ini dikecualikan bagi
orang-orang yang sedang wukuf di Arafah, bahwa yang lebih afdhal bagi mereka
adalah tidak berpuasa, karena dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad
SAW meminta segelas air susu pada hari Arafah, lantas beliau meminumnya dan
orang-orang melihatnya.
Sebagian ulama mengatakan, ‘sesungguhnya hukum ini bersifat
menyeluruh, baik orang yang sedang wukuf di Arafah maupun orang yang tidak
wukuf.’ Akan tetapi pendapat shahih yang dipegang oleh jumhur menyatakan bahwa
puasa tersebut disyariatkan untuk selain orang yang sedang wukuf.[7]
Hari asyura adalah hari saat Allah
menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan fir’aun dan kaumnya.
Kemudian ketika Nabi tiba di Madinah, maka beliau mendapti orang-orang sedang
menjalankan puasa, lantas mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya ini adalah hari
Allah menyelamatkan Musa dan kaunmnya, juga menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya,
sehingga kami berpuasa sebagai rasa syukur’. [8]
2.2.
Puasa
6 Hari di Bulan Syawwal
وَعَنْ أَبِى أَيُّوبَ
اَلْأَنْصَا رِيِّ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ الله عليه وسلم قَا لَ: (مَنْ صَا
مَ رَمَضَا نَ, ثُمَّ أَتْبَعَهَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ
اَلدَّهْرِ)
Dari Abu Ayyub Al-Anshory RA
bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam
hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa setahun.” (HR. Muslim).[9]
Penjelasan:
1.
Hadits
ini adalah hadits shahih yang menunjukkan bahwa berpuasa 6 hari pada Syawal
adalah sunnah. Asy-Syafi'i, Ahmad dan banyak ulama terkemuka mengikutinya.
Puasa ini mencukupi puasa setahun, artinya puasa tersebut setara dengan setahun
dilihat dari pahalanya. Maksudnya puasa Ramadlan (yang biasanya 30 hari)
pahalanya senilai berpuasa 300 hari, karena tiap-tiap satu hari mendapat pahala
10 kali lipat. Dan 6 hari di bulan Syawwal senilai dengan puasa 60 hari,
sehingga semuanya berjumlah 360 hari atau sama dengan 1 tahun.
2.
Tidak
harus dilaksanakan berurutan
Enam hari dalam bulan Syawwal itu tidak
mesti harus berturut-turut yang dimulai dari tanggal 2 (tepat sehabis hari
raya) sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh ummat Islam pada umumnya. Karena
tidak ada penjelasan yang tegas dari agama atau keterangan yang sharih (terang)
dan shahih (kuat) dari agama. Dan kita tidak boleh membuat ketentuan sendiri
dalam masalah 'ibadah. Nabi sendiri tidak mengatakan, “Enam hari di bulan
syawal secara berturut-turut”. Jadi, boleh dan tetap dipandang sempurna
oleh syara' bila kita mengerjakan berselang-seling maupun berturut-turut yang
tidak dimulai tanggal 2 Syawwal (tepat sehabis hari raya), yang penting masih
dalam bulan Syawwal. Kalaupun hendak mengerjakan tepat sehabis hari raya dengan
berturut-turutpun tidak mengapa, asal tidak dengan keyakinan bahwa itulah cara
yang paling sah yang dituntunkan oleh syara'.
3.
Tidak
boleh dilakukan jika masih tertinggal dalam Ramadhan
Orang yang berpuasa enam hari di syawal
sebelum menyelesaikan hutang puasa Ramadhannya maka tidak mendapatkan pahala
puasa ini, kecuali sudah menunaikan qadha puasa ramdhan terlebih dahulu, baru
kemudian disambung dengan enam hari dari syawal.[10]
Dalam hadits ini tidak disebutkan bahwa pelaksanaannya apakah
tepat setelah hari raya idul fitri atau tidak, jadi dapat dikatakan bahwa dalam
pelaksanaan puasa ini tidak harus tepat pada tanggal 2 akan tetapi yang pasti
harus di dalam bulan Syawwal kecuali pada waktu hari raya (tanggal 1 Syawwal).
2.3.
Puasa
3 Hari di Setiap Bulan
وَعَنْ
أَبِي دَرٍّ رَضي الله عنه قَالَ : (أَمَرَ نَارَسُوْ لُ اللهِ صَلَّى للهَ
عَلَيْهِ وَسَلَّمِ أَنْ نَصُوْمَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ: ثَلاَثَ
عَشْرَةَ وَاَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ)
Abu
Dzar RA berkata: “Rasululla SAW memerintahkan kita untuk berpuasa tiga hari
dalam sebulan, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15(bulan-bulan hijriyah).” (HR.al-Nasa’i dan al-Tirmidzi. Hadis ini sahih menurut Ibn Hibban).[11]
Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak
ada pengkhususan di hari puasa sunnah 3 hari setiap bulannya. Dan Yusuf
Qardhawi dalam fiqh puasa juga berpendapat bahwa perbedaan hadits dalam
menetapkan hari-hari puasa menunjukkan adanya toleransi. Setiap muslim boleh
saja berpuasa di awal bulan, tengah bulan, atau akhir bulan, sesuai dengan
kemudahan dan kesempatan yang ia miliki. Tapi kembali kata Imam Nawawi, dalam
hadits dijelaskan bahwa yang paling utama adalah di hari ke-13, 14, dan 15.
2.4.
Puasa
Dawud
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍ,
قَا لَ رَ سُو لُ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الصِّيَا مِ اِلي اللهِ تَعَا لى:
صِيَامُ دَاوُدَ, وَاَحَبُّ اَصَّلاةِ اِلَى اللهِ تَعَا لى: صَلاَةُ دَاوُدَ: كَا نَ يَنَا مُ نِصْفَهُ,
وَيَقُوْمُ ثَلَثَهُ وَيَنَا مُ سُدُسَهُ, وَكَا نَ يُفْطِرُ يَوْمًا, وَيَصُوْمُ
يَوْمًا.
Dari
Abdullah bin Amr RA dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling
dicintai Allah ta’ala, adalah puasa dawud. Dan sholat yang paling dicintai
Allah ta’ala, adalah sholat dawud. Dan biasa tidur setengah malam, dan bangun
sepertiganya, lalu tidur lagi seperenamnya. Dia biasa berbuka sehari dan
berpuasa sehari. (HR. Muslim)”[12]
Syaikh Muhammad bin Sholih al
‘Utsaimin mengatakan: puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh yang mampu dan
tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukanpuasa ini
sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyariatkan lainnya. Begitu pula
jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena
ingat disamping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan jika
banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak
memperbanyak puasa.[13]
2.5.
Puasa
Senin Kamis
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah dari Rosulullah, bersabda:
تُعْرَضُ اَعْمَالُ النَّاسِ فِيْ كُلِّ
جُمْعَةٍ يَوْمَ اْلاِ ثْنَيْنِ وَيَوْمَ اْلخَمِيْىسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ
مُؤمِنٍ اِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اَخِيْهِ شَحْناَءُ فَيَقُوْلُ اتْرُكُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيْئًا
“Amal
perbuatan manusia dilaporkan pada setiap hari jumat dua kali yaitu pada hari
senin dan hari kamis, lalu setiap orang mukmin diampuni dosana kecualiorang
yang sedang bersengketa dengan saudaranya., lalu dikatakan tunggulah dua orang
ini sampai keduanya berdamai.”HR.Muslim.[14]
Dalam riwayat
lain disebutkan:
تُفْتَحُ
اَبْوَابُ اْلجَنّةِ يَوْمَ اْلِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ اْلخَمِيْىسِ فَيُغْفَرُ
لِكُلِّ عَبْدٍ لَايُشْرِكُ بٍا للهِ شَيْئًا, اِلَّارَجُلاً كاَ نَتْ بَيْنَهُ
وَبَيْنَ اَخِيْهِ شَحْنَا ءُ فَيُقاَ لُ اَنْظِرُوْا هَدَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu
pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis, lalu di beri ampunan bagi setiap
hamba yang tidak menyekutukan allah dengan suatu apapun kecuali orang yang
sedang bersengketa dengan saudaranya, lalu dikatakan: perhatikan kedua orang ini
sampai keduanya mau berdamai.”
Dari hadist di atas dapat kita ketahui bahwa Nabi sering kali
melaksanakan puasa pada hari senin dan kamis. Dari hadits tersebut pula dapat
kita ketahui bahwa Allah swt. akan mengampuni dosa seorang muslim pada hari
senin dan kamis kecuali dosa orang yang bermusuhan. Pernah Nabi di tanya
tentang puasa hari senin kemudian Nabi menjawabnya: bahwa hari senin itu hari
kelahiranku, dan hari senin itu Qur’an diturunkan kepadaku.[15]
C.
PENUTUP
1.
Kesimpulan
1.
Puasa adalah menahan diri dari segala
sesuatu yang dapat membatalkan puasa dan menahan segala hawa nafsu mulai dari
terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan disertai niat.
2.
Puasa wajib merupakan puasa yang harus
dikerjakan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa dan jika dikerjakan akan
mendapat pahala. Salah contoh dari puasa wajib adalah puasa Ramadhan. Puasa
Ramadhan adalah puasa yang dikerjakan pada bulan Ramadhan dan hukumnya wajib
bagi orang islam.
3.
Puasa sunnah adalah puasa yang apabila
dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapatkan dosa.
Puasa sunnah macam- macamnya diantaranya adalah puasa Arafah, puasa 3 hari
dalam sebulan, puasa Asyuro, puasa senin kamis, puasa Dawud dan puasa 6 hari
Syawal.
a. Puasa Arafah
adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.
b. Puasa 3 hari
dalam sebulan adalah puasa yang terjadi pada tanggal 13, 14, 15 Hijriyah.
c. Puasa Asyuro
adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram.
d. Puasa senin
kamis adalah puasa yang dilaksanakan pada hari senin dan kamis.
e. Puasa Dawud
adalah puasa yang dilakukan sehari puasa sehari tidak atau puasa bersilang.
f. Puasa 6 hari
Syawal adalah puasa yang dikerjakan setelah idul fitri selama 6 hari.
D.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-‘Asqalani,
Ibn Hajar. Bulughul Maram. Bandung: Mizan Pustaka,
2010.
Bey Arifin, H. Muktashar Sunan Abi Dawud . Semarang: Asy
Syifa’, 1992.
Fuad Abdul Baihaqi, Muhammad. al-Lu’lu’
Wal Marjan jilid II. Semarang:
Al-Ridha, 1993.
Daud, Ma’mur. Terjemah Hadits Shahih Muslim. Jakarta:
Widjaya, 1993.
Hassan, A. Terjemah Bulughul
Maram. Bandung: Diponegoro, 2006.
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh. Sifat Puasa Nabi. Jakarta:
Darus Sunnah Press, 2012.
Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin, Syaikh. Syarh Riyadhus
Sholihin. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, 1424.
Musthofa, KH Adib. Terjemah Shahih
Muslim. Semarang: Asy-Syifa’, 1994.
Nashruddin Al Albani, Muhammad. Ringkasan
Shahih Bukhari. Jakarta:
Pustaka Azzam, 2014.
Nawawi, Imam. Syarah Al Muhadzdzab. Jakarta: Pustaka Azaam,
2013.
Zuhri, Muhammad. Kelengkapan Hadist Qudsi. Semarang: Toha
Putra, 1982.
[1] Muhammad
Zuhri, Kelengkapan Hadist Qudsi (Semarang: Toha Putra, 1982), 292.
[2] KH Adib
Musthofa, Terjemah Shahih Muslim (Semarang: Asy-Syifa’, 1994), 291.
[3] Muhammad
Nashruddin Al Albani, Ringkasan Shahih Bukhari (Jakarta : Pustaka Azzam,
2014), 458.
[4]Muhammad Fuad
Abdul Baihaqi, al-Lu’lu’ Wal Marjan jilid II (Semarang: Al-Ridha, 1993),
4.
[5] A. Hassan, Terjemah
Bulughul Maram (Bandung: Diponegoro, 2006), 288.
[6] Ibn Hajar
al-‘Asqalani, Bulughul Maram (Bandung: Mizan Pustaka, 2010), 270.
[7] .Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Sifat Puasa Nabi
(Jakarta:Darus Sunnah Press, 2012), 403.
[10] Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Sifat Puasa Nabi (Jakarta:Darus Sunnah
Press, 2012), 421.
[12] H. Bey Arifin,
Muktashar Sunan Abi Dawud (Semarang: Asy Syifa’, 1992), 254-255.
[13] Syaikh
Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin, Syarh Riyadhus Sholihin (Darul Kutub
Al ‘Ilmiyah, 1424) , 3.
[14] Imam Nawawi, Syarah
Al Muhadzdzab (Jakarta: Pustaka Azaam, 2013).
[15] Ma’mur Daud, Terjemah
Hadits Shahih Muslim (Jakarta: Widjaya, 1993), 271.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar